Pekik Takbir Iringi Pemakaman Dulmatin di TPU Dowo Pemalang
JAY-Riyanto Jayeng
Jumat, 12/03/2010, 11:00:00 WIB

Ribuan warga dari berbagai daerah mengantar jenasah Dulmatin ke pemakaman. (FT: Riyanto Jayeng)

PanturaNews (Pemalang) - Jenazah otak pengeboman Bali 8 tahun lalu, Dulmatin alias Joko Pitono yang punya nama asli Ammar Bin Usman Sovie (40), Jumat 12 Maret 2010 pukul 03.45 WIB tiba di rumahnya Jalan Garuda Nomor 24 Desa Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kedatangan jenazah di pagi buta itu disambut dengan gema takbir yang membahana dari para pelayat yang sudah sejak sore menunggu.

Hanya keluarga dan kerabat dekat yang dipersilahkan untuk melihat kondisi jenazah. Mereka berdesakan melihat jasad Dulmatin secara bergantian. Sementara, sejumlah personil laskar Fron Pembela Islam (FPI) berusaha menghalangi wartawan yang meliput kedatangan jenazah dengan membuat pagar betis di pintu masuk halaman. Semakin siang situasi kian ramai. Keramaian di kediaman Dulmatin berada di komplek Pasar Petarukan itu menjadi perhatian para pedagang yang ikut memadati halaman.

Sekitar pukul 06.45 WIB, jenazah mulai diberangkatkan dengan diusung keranda berjalan kaki menuju tempat pemakaman umum (TPU) Dowo di Desa Loning yang berjarak sekitar 5 Km dari kediaman almarhum. Ribuan pelayat yang dikawal 3 pleton personil Polres Pemalang dan Satuan Perintis Polwil Pekalongan, berdesakan dan terus menggemakan takbir hingga jasad almarhum dimasukan ke liang lahat.

Menurut warga setempat, Kusaeri, lahan yang digunakan untuk memakamkan jenazah Dulmatin adalah tanah milik almarhum yang letaknya berada persis di sebelah utara pemakaman umum Dowo. “Jenazah itu dimakamkan di tanah miliknya sendiri, yang bukan bagian dari pemakaman. Kebetulan saja letak tanah itu bersebelahan dengan lokasi pemakaman. Sebenarnya, komplek pemakaman ini juga wakaf dari kakek almarhum,” katanya.

Prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat dengan diiringi seruan takbir dari ribuan pelayat berakhir tepat pukul 09.30 WIB. Para pelayat yang sebelumnya gegap gempita mengeluarkan kata-kata hujatan kepada aparat polisi kembali pulang ke rumahnya masing-masing tanpa menimbulkan keributan. Usai prosesi pemakaman, pihak keluarga Dilmatin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia atas semua kesalahan yang pernah diperbuat gembong teroris tersebut.