![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Ulama dari jaringan kultural Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menyoroti bangunan SMK IC Islamic Center Brebes yang berdiri di komplek Islamic Center setempat. Pasalnya, bangunan sekolah kejuruan yang sudah beridiri 90 persen tersebut, dianggap menyalahi ikrar yang disepakati tahun 2005, sejak jamannya Bupati Brebes, Safrul Supardi.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Aminudin Afif yang mengaku mewakili kalangan ulama NU. Menurutnya, sejak Bupati Safrul Supardi, masyarakat dimintai infak Rp 100 per Kepala Keluarga per bulan selama bertahun-tahun. Tujuannya, untuk meningkatkan pelayanan haji di Kabupaten Brebes.
"Jadi, bangunan SMK tersebut harus dipindahkan. Sebab, peruntukannya sudah jelas, yakni untuk kepentingan kegiatan haji seperti asrama haji, aula dan kegiatan manasik haji," ujarnya, Rabu 23 April 2014.
Ia mengaku banyak aduan dari masyarakat terkait berdirinya bangunan tersebut, terutama kalangan ulama di Brebes. Menurutnya, pengurus Yayasan Islamic Center Brebes seharusnya lebih memikirkan bangunan yang menunjang pelayanan haji. Sebab, selama ini pelayanan di lembaga ini dinilai belum maksimal.
Menyikapi hal itu, Ketua Panitia Pendirian SMK IC Islamic Center Brebes, Zaenal Arifin mengaku bangunan SMK IC Islamic Center Brebes sebelum dibangun sudah dimusyawarhakan terlebih dahulu bersama dewan pembina. Bahkan, ide tersebut diakuinya muncul dari para dewan pembina.
"Sehingga setelah dimusyawarahkan bersama pengurus, akhirnya pelaksanaan pembangunan sekolah tersebut dilakukan," tuturnya.
Ia menjelaskan, bahwa rencananya sekolah itu akan membuka 2 jurusan, yakni jurusan Informasi dan Komunikasi, dan jurusan Pariwisata. Untuk Bidang keahlian tata boga dan multimedia dengan penerapan system boarding school.
“Tujuannya tidak lain adalah untuk mendayagunakan umat karena masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan,” tandasnya.