![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes, Jawa Tengah, H. Emastoni Ezam, diisukan minta setoran uang sebesar Rp 5 juta ke para pejabat bawahannya setiap tiga bulan sekali. Isu tersebut sudah berkembang di masyarakat maupun di jejaring sosial Facebook “Celoteh Brebes Membangun” (CBM) dan cukup menyita perhatian banyak kalangan.
Seperti halnya yang telah muncul di grup Facebook CBM, dimana di dalam grup facebook itu, salah seorang pengguna atas nama Surya meng-apload karikatur Sekda yang dibuat sekitar 20 jam lalu dengan disertai tulisan yang berbunyi: "Pokoke,.. kabeh kepala SKPD setor Rp 5 juta saben 3 bulan ning enyong..OK?" (Pokonya, ..semua kepala SKPD setor Rp 5 juta setiap 3 bulan ke saya.. OK?)
Karena merasa penasaran, salah seorang pengguna facebook lainnya atas nama @Bahrul Ulum mengomentarinya: Kuwe Asli apa ora wa... olih beritane sing sapa. Wong media cetak be durung ngliput," ujar Bahrul Ulum. Pengguna facebook lainnya atas nama @Otong Kasan mengometari: Dan perintah itu pasti tanpa disposisi. Kepala Bagian bisa menolak untuk memberikan kalau itu menabrak aturan. Berani ???? Hebatttt!!!!!.
Sementara ketika PanturaNews.Com, konfirmasi ke sejumlah Kepala Bagian (Kabag) di lingkungan Setda Pemkab Brebes, tidak memungkiri adanya isu hal tersebut. Salah satu Kabag di lingkungan Setda Pemkab Brebes yang minta identitasnya dirahasiakan, mengaku mengetahui informasi bahwa Sekda minta setoran uang sebesar Rp 5 juta ke para pejabat bawahannya, khususnya di lingkungan Setda Pemkab Brebes.
"Ya, saya tahu informasi bahwa Pak Sekda (Emastoni) minta setoran uang sebesar Rp 5 juta ke para pejabat bawahannya, khususnya di lingkungan Setda Pemkab Brebes. Itu sebenarnya sudah dilakukan sejak yang bersangkutan belum ditetapkan menjadi sekda devinitif, yakni tahun 2013 lalu," ujarnya kepada PanturaNews.Com, Kamis 10 April 2014.
Namun, kata pejabat yang mewanti-wanti agar namanya dirahasiakan ini, kalau sebelum Emastoni ditetapkan menjadi Sekda devinitif (Plt Sekda-red), uang setoran yang diminta Rp 4 juta setiap tiga bulan sekali. "Jadi, yang sebelumnya minta setoran Rp 4 juta, sekarang naik menjadi Rp 5 juta. Tapi, tadinya mau minta setoran Rp 10 juta. Karena para pejabat bawahannya itu merasa keberatan, akhirnya menjadi Rp 5 juta setiap tiga bulan sekali," tuturnya.
Diakuinya, ia mengetahui hal itu karena para pejabat bawahannya yang sebagaian besar adalah para Kabag dikumpulkan untuk rapat bersama di ruang Sekda. Meski begitu, ia mengaku tidak menyetorkan uang setoran yang diminta Sekda, mengingat tidak punya uang sebesar itu.
"Saya tidak menyetornya ke Pak Sekda. Karena saya tidak punya uang. Kalau pejabat yang lainnya saya tidak tahu, setor atau tidak," ungkapnya.
Menurutnya, uang setoran setiap tiga bulan sekali itu tidak langsung yang meminta Sekda, namun dihimpun oleh salah satu Kasubag di lingkungan Setda Pemkab Brebes berinisial "A".
"Yang minta setoran langsung bukan Pak Sekdanya, tapi dihimpun oleh salah satu Kasubag di lingkungan Setda Pemkab Brebes berinisial "A"," terangnya.
Beberapa Kabag lainnya saat dikonfirmasi mengaku juga membenarkan adanya informasi hal itu, meski diakuinya ada yang sama sekali tidak mau setor maupun tidak mengetahui hal itu.
Salah satu Kasubag di lingkungan Setda Pemkab Brebes berinisial "A", saat dikonfirmasi di ruang kerjanya mengaku tidak mengetahui dan melakukan hal seperti yang dituding oleh salah seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya itu.
"Saya tidak mengetahui dan melakukan hal seperti yang dituding oleh salah seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya itu, dengan menyebutkan saya yang menghimpun dana setoran uang sebesar Rp 5 juta untuk Pak Sekda. Sekali lagi, saya tidak tahu dan tidak melakukan hal itu," kilahnya.
Sementara Sekda Pemkab Brebes, H. Emastoni sendiri saat dikonfirmasi mengatakan, sumbernya saja tidak jelas mengapa ditanyakan. "Lah wong sumbernya saja gak jelas, kok ditanyakan," ucapnya melalui pesan SMS.
Namun, saat ditanya kembali bahwa jika sumber itu jelas, ia tetap tidak merespon terkait tudingannya itu. "Ya udah kita anggap yang gak jelas aja, wong itu siapa yang ngomong aja kita gak tau kok. Kalaupun memang itu sumbernya jelas, suruh kesini orangnya," tandasnya.