Lagi, Wanita Asal Brebes Diduga Korban Trafficking
-Laporan Takwo Heriyanto
Senin, 10/03/2014, 09:06:40 WIB

Orang tua Sarniti memperlihatkan foto anaknya yang sudah 3 tahun menghilang (Foto: Takwo Heryanto)

PanturaNews (Brebes) - Kasus dugaan perdagangan manusia kembali terjadi di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kali ini, korbannya adalah Sarniti, gadis asal warga RT 8 RW 5 Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Ia diduga menjadi korban trafficking (perdagangan manusia).

Pasalnya, sudah tiga tahun korban tidak diketahui keberadaannya. Diduga dia diselundupkan ke Malaysia oleh oknum tak bertanggungjawab. Pihak keluarga hingga kini merasa cemas dan bingung dengan kondisi Sarniti.

"Sudah tiga tahun kami tidak tahu kabar anak saya, sama sekali tidak ada kontak dan komunikasi sejak dia dibawa orang," kata Dulgani (46) dan Kustati (45), orang tua korban saat ditemui, Senin 10 Maret 2014.

Kronologi kasus ini bermula pada awal tahun 2012, Sarniti didatangi oleh Danuwati, bibinya sendiri yang tinggal di Jakarta. Danuwati datang bersama dengan dua orang yang diduga sebagai perekrut tenaga kerja, yang diketahui bernama Lis dan Joko. Mereka membujuk rayu Sarniti untuk bekerja di Malaysia dengan bayaran yang tinggi.

Ia dijanjikan jika bekerja dua tahun di Negeri Jiran bisa membawa pulang Rp 50 juta-an. Namun, tawaran itu ditolak oleh kedua orang tua Sarniti, karena menganggap korban minim pengetahuan dan keterampilan.

Pelaku tetap mengiming-imingi korban, hingga tanpa sepengetahuan orang tunya, Sarniti sudah meninggalkan rumah dibawa pelaku ke Jakarta. Orang tua korban mengaku tak pernah menandatangani surat ijin sebagai tanda menyetujui Sarniti yang hanya lulusan SD itu bekerja di luar negeri.

"Saya saat itu lagi nganter duit buat adik Sarniti di pesantren, tiba-tiba sampai di rumah Sarniti sudah berangkat dibawa mereka pakai mobil travel," tutur Kustati, ibu korban.

Tidak lama setelah Sarniti dibawa Danuwati dan timnya, kedua orangtua korban mencoba menghubungi Danuwati untuk menanyakan keberadaan Sarniti. Saat itu, Danuwati mencoba menenangkan pihak keluarga dan dikatakan, kondisi Danuwati baik-baik saja dan akan bekerja di pabrik roti.

"Danuwati bilang sama saya, tenang saja Sarniti baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir," terang Kustati.

Hingga akhirnya, bulan dan tahun terlewati, keluarga Sarniti semakin khawatir dengan kondisi anak kedua dari tiga bersaudara itu. Pasalnya selain tidak pernah berkomunikasi, Sarniti juga tidak pernah mengirim gaji ke rumah. Lagi-lagi, Danuwati selalu menutup-nutupi kondisi Sarniti. Bahkan belakangan, Danuwati sering marah-marah jika ditanya kabar Sarniti.

"Bukan masalah gajinya, saya yang melahirkan pasti khawatir, masa tidak ada kabar sama sekali. Saya ini kepikiran terus sampai sakit-sakitan, bolak-balik terus ke dokter," ujar Kustati dengan mata berkaca-kaca.

Setelah tiga tahun tak ada kabar, orangtua Sarniti pun mencoba berbagai hal, dari bertanya pada orang pintar hingga minta bantuan ke aktivis LSM untuk mencari kabar anaknya itu. "Saya ingin sekali tahu kabar dan kondisinya sekarang. Danuwati dan dua orang yang membawanya sama sekali tidak mau menjelaskan kondisinya," kata dia.

Sementara aktivis LSM Masjaka Brebes, Mahfudin SS yang mengadvokasi kasus ini mencurigai Sarniti adalah korban trafficking. Ia menduga, kalaupun Sarniti bekerja sebagai TKW dimungkinkan ada manipulasi data, persetujuan orang tua dan umur korban, yang saat itu masih dibawa umur.

"Sejauh ini saya sudah mengklarifikasi kepada Danuwati, bibi korban dan dua perekrut Lis dan Joko warga Pemalang. Namun mereka juga tidak tahu di mana Sarniti, mereka saling melempar tanggungjawab, saling menuding. PJTKI-nya apa saja tidak tahu, kemungkinan mereka hanya mencari untung bonus saja," tandas Mahfudin.

Saat diperdengarkan percakapan lewat telepon dengan Danuwati dan Joko, mereka saling mengelak dan mengaku Sarniti dibawa oleh orang yang hingga kini tidak diketahui identitasnya. Mereka bahkan menantang dan mengaku siap jika dilaporkan ke Polisi.