![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Berbagai upaya Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) semakin gencar dilakukan Pemerintah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas kesehatan di tengah masyarakat.
Bekerjasama dengan USAID melalui program Expanding Maternal and Newborn Survival (EMAS)-nya, Pemkab Brebes menyelenggarakan pendampingan klinis yang ditujukan kepada para Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat, Direktur Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan mulai dari dokter, bidan juga perawat, Anggota Pokja Kesehatan serta Kepala Puskesmas se-Kabupaten Brebes.
Kegiatan pendampingan klinis dilaksanakan mulai Senin 3 Maret 2014 hingga Jumat 7 Maret 2014 yang dipusatkan di Gedung Pertemuan RSUD Brebes.
Selama lima hari, para peserta pendampingan disuguhi berbagai agenda kegiatan, mulai dari Tata Kelola Pusat Kesehatan yang baik dan benar, Diskusi, workshop hingga penyusunan Rencana Tindak Lanjut untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul.
Pendampingan dilakukan oleh Tim Emas Provinsi Jateng yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim Emas Provinsi, Dr. Hartanto, M.Med.Sc serta menghadirkan tim dari RS. Budi Kemuliaan Jakarta dan RS. Dr. Soesilo Kabupaten Tegal sebagai bagian dari Tim Pendamping.
Menurut Hartanto, tujuan dari upaya pendampingan klinis ini adalah pemahaman tim serta aktor (tenaga kesehatan) pada fasilitas kesehatan terhadap peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi baru lahir (neonatus) berkelanjutan sehingga mampu dan bersedia menjadi model bagi pengembangan upaya peningkatan kualitas mutu kesehatan ibu di wilayah kerja dan sekitarnya.
Pola pendampingan juga menyertakan sesi kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan ke Rumah Sakit dan Puskesmas Vanguard di wilayah Kabupaten Brebes, termasuk RSUD Brebes dan 10 Puskesmas.
Rumah Sakit dan juga Puskesmas Vanguard adalah pola pendekatan yang dilakukan oleh Program Emas dimana Vanguard atau dapat diartikan dengan istilah Garda Depan, yaitu dengan melakukan penerapan tata kelola yang baik terkait kelangsungan hidup bayi dan ibu baru lahir yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kegawatdaruratan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di fasilitas kesehatan.
Hasil pendampingan sekaligus kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan di wilayah Kabupaten Brebes tersebut kemudian dipaparkan oleh Tim Pendamping di hadapan Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti, SE pada puncak kegiatan pendampingan yaitu workshop pendampingan klinis.
Dari paparan muncul data bahwa sepanjang tahun 2013 terdapat 1.813 persalinan yang terjadi di RSUD Brebes dengan angka kematian ibu mencapai 17 jiwa, sedangkan angka kematian bayi mencapai 122 jiwa.
Tidak hanya itu, jumlah bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah mencapai angka 527 dan jumlah bayi asfiksia (bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur) mencapai 232 bayi.
Dari permasalahan yang muncul tersebut, RSUD Brebes kemudian menyusun rencana tindak lanjut yang menyentuh paling tidak dua poin, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan Emergensi Obstetri Neonatal atau pelayanan berkelanjutan terhadap upaya peningkatan kulitas kesehatan ibu dan bayi baru lahir dimana didalamnya termasuk rencana untuk menambah ketersediaan tenaga perawat/bidan di semua unit, memugar sarana ruang perawatan ibu dan bayi dan menambah fasilitas peralatan semua unit.
Tidak hanya itu, rencana tindak lanjut juga menyentuh pembenahan terhadap standar kebijakan prosedur mulai dari pelayanan, komunikasi dan ketenagaan.
Menanggapi apa yang disampaikan Tim Pendampingan Emas, Bupati Brebes, Hj. Idza Priyanti, SE mengatakan bahwa seluruh elemen tim kesehatan, tanpa kecuali harus terus meningkatkan kerja dan kinerjanya. Bupati percaya bahwa RSUD Brebes juga puskesmas-puskesmas termasuk tenaga kesehatan yang ada di wilayah Kabupaten Brebes akan terus berusaha memberikan pelayanan terbaik.
Bupati menyampaikan bahwa Pemkab Brebes tentu akan mendukung semaksimal mungkin, mulai dari dukungan secara regulasi, dukungan anggaran hingga dukungan operasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Dr. Sri Gunadi Parwoko, M.Kes menyampaikan bahwa workshop yang digelar pada hari ini adalah bagian dari tahap akhir pendampingan klinis pertama.
Gunadi menyampaikan bahwa pendampingan klinis berikutnya akan dilaksanakan pada bulan Juli mendatang dengan sasaran yang lebih luas dan bertambah.