![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) – Target kebutuhan beras di tujuh daerah eks Karesidenan Pekalongan, tahun 2010 mencapai 90 ribu ton. Target tersebut meliputi atas 58 ribu ton gabah petani atau setara 34 ribu ton beras dan 56 ribu ton beras. Pengadaan pangan itu sudah mulai dilaksanakan sejak 03 Maret 2010 hingga Desember 2010. Hal itu dikatakan Kepala Perum Bulog Sub Divre VI Pekalongan Alwi Umri, kepada sejumlah wartawan, Jumat 05 Maret 2010.
Menurut Alwi Umri, hingga awal bulan ini kontrak pengadaan beras dari 116 mitra Bulog yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di wilayah eks-Karesidenan Pekalongan sudah mencapai 3.927 ton dengan realisasi sebanyak 241,6 ton beras. Sedangkan kontrak pengadaan gabah sebanyak 500 ton untuk bulan ini baru terealisasi 135 ton. “Gabah dari petani itu sekarang disimpan di gudang Babadan, Kabupaten Tegal,” katanya
Alwi mengemukakan, sesuai Inpres Nomor 7/2009 tentang Kebijakan Perberasan, yang berlaku mulai 1 Januari 2010, pemerintah telah menaikkan harga beras pokok pemerintah (HPP) sebanyak 10% dari semula Rp4.600/kg menjadi Rp5.060/kg. Harga pembelian beras (HPB) tersebut hanya berlaku bagi beras dengan kualitas kadar air maksimum 14%, butir putih maksimum 20% dan derajat soso minimum 95%. “Sedangkan harga pembelian gabah kering giling (GKG) dengan kualitas kadar air maksimum 14% dan kadar hampa 3% ditetapkan Rp3.300/kg,”tandasnya.
Dia menjelaskan, target pengadaan beras tahun ini menurun dibandingkan pada 2009 lalu yang mencapai sebanyak 120.000 ton dengan realisasi 117.000 ton beras. Penurunan ini disebabkan beberapa faktor diantranya musim tanam di beberapa wilayah mundur akibat faktor cuaca. Meski demikian, lanjut dia, pengadaan beras tahun ini sebanyak 90.000 ton akan tercukupi sesuai kebutuhan hingga Desember 2010, terutama untuk melayani beras miskin bagi warga miskin yang mencapai 8.498.646 kg. “Pengadaan beras sudah mulai dilaksanakan karena di beberapa wilayah petani sudah mulai panen padi,” ujarnya.