![]() |
|
|
PanturaNews (Jakarta) - Setelah deklarasi dan menggelar berbagai kegiatan, Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi kembali menggelar aksi panggung hiburan dengan agenda pentas musik dari Sanggar Si Pitung, Paduan Suara Ibu-ibu dari Kebagusan Jakarta Selatan, dan Pendaftaran Relawan Seknas Jokowi, Minggu 22 Desember 2013 di Jakarta.
Menurut Presidium Seknas Jokowi, Muhammad Yamin, SH, pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 2013 ini, Jokowi telah memulai program-program mendasar yang berkaitan dengan ibu-ibu seperti persoalan kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan penghormatan terhadap perempuan. Penggunaan kartu sehat, pembersihan Ciliwung, penghapusan SPP sekolah negeri dan lainnya, adalah segelintir bukti yang menancap kuat dalam ingatan tentang apa yang telah dilakukan Gubernur DKI, Joko Widodo yang lebih popular disapa Jokowi ini.
“Secara pribadi, kita melihat Jokowi adalah sosok yang punya rasa sayang yang besar kepada ibu kandung dan istrinya. Dengan demikian, kita sebagai warga Negara Indonesia ini telah mendapat teladan bagaimana Hari Ibu harus dirayakan. Bukan dengan slogan-slogan kosong, melainkan dengan tindakan nyata untuk menghormati ibu,” tutur Muhammad Yamin yang juga Caleg DPR RI Dapil Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes) kepada PanturaNews, Senin 23 Desember 2013.
Sebab, lanjutnya, dengan memenuhi kebutuhan ibu, kita mengangkat derajat generasi kita, sekaligus menyiapkan generasi masa depan yang tangguh. Dengan itulah, kita optimis menghadapai masa depan. Bersama Jokowi dan Gotong Royong Warga: Indonesia Bangkit, Berdikari, Berdaulat, Bermartabat.
Lebih lanjut dijelaskan Muhammad Yamin, Seknas Jokowi adalah muara dari berbagai organisasi warga dari seluruh penjuru nusantara yang menyatu untuk mendukung Jokowi sebagai Presiden RI periode 2014-2019.
Sesuai namanya, Sekretariat Nasional Jokowi adalah singkatan dari Jaringan Organisasi Komunitas Warga Indonesia, merupakan inisiatif politik dari rakyat Indonesia yang merindukan kepemimpinan nasional yang mampu membawa Indonesia Bangkit! Berdaulat, Berdikari, dan Bermartabat. Sebuah cita-cita nasional yang didengungkan Presiden Soekarno, agar bangsa ini mandiri secara politik (Berdaulat), secara ekonomi (Berdikari), dan secara budaya (Bermartabat).
Diungkapkanya, sebagaimana kita ketahui dan kita rasakan bersama, bahwa sebagai bangsa kita masih berhadapan dengan berbagai masalah, baik yang berasal dari masa lalu, maupun yang datang dari masa kini. Kesemuanya, telah menjadikan apa yang semula menjadi potensi dan kekuatan bangsa, telah berubah menjadi tantangan; Ibu pertiwi yang kaya raya, namun rakyat masih hidup dalam banyak persoalan, bahkan sebagian masih hidup di bawah garis kemiskinan.
“Bagi rakyat, kondisi yang demikian ini adalah keadaan yang harus segera diakhiri, dan segera digantikan dengan pergerakan baru, yakni pergerakan bangsa yang dapat memastikan transformasi bangsa, sehingga kita menjadi bangsa yang berdaulat, berdikari dan bermartabat,” tutur Muhammad Yamin.
Ditegaskan, rakyat berpandangan bahwa Ibu Pertiwi harus diselamatkan. Pandangan lama, yaitu pandangan yang mudah merendahkan martabat Ibu Pertiwi, harus digantikan dengan pandangan baru yang memuliakan Ibu Pertiwi. Pandangan yang dimaksud adalah suatu pandangan yang memuat semangat dan strategi membangun Kemandirian Indonesia.
“Kita yakin bahwa pandangan tersebut hanya mungkin dijalankan oleh suatu kepemimpinan yang lebih fresh, suatu kepemimpinan yang tidak punya masalah dengan masa lalu, suatu model kepemimpinan yang sederhana, apa adanya, jujur, berpihak pada rakyat, dan dapat menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah rakyat. Apa yang selama dijalankan oleh Jokowi, adalah sebagian bukti dari komitmen kuat Jokowi untuk memberdayakan rakyat, dan pada gilirannya membawa bangsa kepada masa depannya yang baru, yakni bangsa yang punya kemandirian, kedaulatan dan martabat,” tandasnya.