![]() |
|
|
PanturaNews (Kajen) – Untuk melestarikan budaya nasional yang makin terkikis, Padepokan Gamelan Langensari, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan tetap gencar memberikan pelatihan kepada anak-anak dari semua jenis musik gamelan. Diharapkan mereka mampu memainkan gamelan untuk melestarikan budaya nasional. "Kita setiap minggu latihan, mereka kebanyakan anak-anak usia SD," ujar pelatih Pedepokan Langen Sari Edi Sumarsono, Kamis 4 Maret 2010 pukul 12.00 WIB.
Edi mengatakan, budaya nenek moyang berupa perangkat musik gamelan dewasa ini sudah semakin langka. Hal itu disebabkan selain tak semua kelompok musik mempunyai perangkat alat, juga minimnya tenaga ahli di bidang musik gamelan. Sehingga, kesenian yang merupakan adat istiadat bangsa Indonesia, terutama Jawa dan Melayu akan terancam punah. Padahal, di negara lain seperti Malaysia, masih mengembangkan musik gamelan bahkan mereka mengakui jika seni itu berasal dari melayu.
"Musik gamelan memang terancam punah, untuk itu kami ingin melestarikanya dengan memberikan ketrampilan dan pengetahuan kepada generasi muda khususnya anak-anak," lanjut Edi.
Selain gamelan, tembang-tembang yang perlu diketahui seperti mocopat dan lain-lain menjadi ramuan musik gamelan jawa. Sehingga perpaduan antara fokal dan konsonan itu akan menambah keindahan musik bagi para penggemar dan pecinta musik gamelan.
Edi berharap pemerintah hendaknya membantu untuk memelihara kelestarian seni dan budaya nasional ini, sehingga budaya nasional ini dapat hidup dan terus berkembang sepanjang masa. "Harapan kami ada campur tangan dari pemerintah untuk menghidupkan seni budaya ini, karena mereka juga perlu fasilitas berupa gamelan dan tenaga ahli," harap Edi.
Selama ini, Padepokan Gamelan Langensari ini kerap kali menjadi pendamping iringan drama, terutama yang cerita yang mengandung historis, seperti ketoprak van kajen dan lain-lain. Para pemainya rata-rata masih kecil yakni antara usia sekolah kelas 4 sampai kelas 6 SD.