Enam Remaja Jadi Korban Perdagangan Manusia
-Laporan Takwo Heriyanto
Jumat, 15/11/2013, 06:01:27 WIB

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Sedikitnya enam remaja asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) dari Kota Tangerang, Banten. Mereka adalah Santi Noviyanti (17) warga Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba. Yuliawati (17) warga Desa Gegerkunci, Kecamatan Songgom, dan Lilis Ijahyanti (18) warga Desa Kedungbokor, Kecamatan Paguyangan.

Tiga remaja lainnya adalah Indah Fitriyani (17) warga Desa Dukuhlo, Kecamatan Bulakamba, Nuryanti (15) warga Kecamatan Larangan, dan Roma Tunisah (16) warga Desa Kedungabad, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.

"Mereka menjadi korban perdagangan manusia karena tergiur gaji Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta per bulan," ujar Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnamkertrans) Kabupaten Brebes, Syamsul Komar, Jumat 15 November 2013.

Seperti diketahui, Kepolisian Resor Kota Tangerang, menetapkan Direktur Yayasan Citra Kartini Mandiri sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyekapan 88 calon pembantu rumah tangga (PRT) di Bintaro, Tangerang Selatan.

Menurut Komar, keenam remaja itu masih berada di Balai Rehabilitasi Sosial Remaja Wira Adhi Karya di Ungaran, Semarang. Mereka termasuk dalam 19 remaja asal Jawa Tengah yang diselamatkan polisi dalam penggerebekan tempat penampungan di Tangerang, pada Oktober 2013 lalu. Namun, keenam remaja itu baru akan diantar pulang dari Semarang sekitar pukul 16.00 WIB. “Tapi surat resmi tentang hal itu belum ada,” ungkapnya.

Dia mengatakan, tempat penampungan mereka dikelola Yayasan Citra Kartini Mandiri, perusahaan penyalur pembantu rumah tangga (PRT), pengasuh bayi dan jompo. Di tempat penampungan itu mereka disekap selama beberapa bulan dan belum dipekerjakan. Selama disekap, mereka mendapat perlakuan tidak manusiawi, seperti makan sekadarnya, tidur berdesakan, dan mendapat hukuman fisik ketika melakukan kesalahan.

Mencegah jatuhnya korban perdagangan manusia, lanjutnya, pihaknya selama ini kerap menggelar sosialisasi dari tingkat kecamatan sampai ke desa-desa. "Tujuan sosialisasi itu agar warga tidak mudah tergiur dengan penawaran kerja bergaji tinggi, tapi tidak melalui jalur resmi," tandasnya.