![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Sebagian besar petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kini terpaksa menerapkan sistem tunda jual akibat serangan bawang impor di berbagai daerah konsumen seperti di Palembang, Medan, Tanjungpinang, Pontianak, Jakarta dan Bandung.
Padahal Kementerian Perdagangan (Kemendag) jauh hari sebelunya berjanji akan menghentikan impor bawang merah bertepatan dengan masa panen di beberapa daerah produsen. Namun pada kenyataannya, janji untuk melarang impor bawang merah dalam beberapa bulan di triwulan III dan IV 2013 tersebut tidak terbukti.
“Buktinya mana? Pulau Sumatra sampai sekarang masih dibanjiri bawang impor,” kata Taryadi (45), petani bawang di Desa Krasak, Kecamatan Brebes, Rabu 13 November 2013.
Dia mengatakan, bawang merah Brebes biasa dikirim ke Sumatra yang meliputi Palembang, Medan, Tanjungpinang, dan Pontianak. Di Jawa, bawang Brebes dijual ke Jakarta dan Bandung. Akibat masuknya bawang impor yang ukurannya lebih besar dan harganya lebih murah, bawang Brebes kalah bersaing di enam daerah konsumen itu.
“Bawang impor menyerang daerah konsumen, bukan di Brebes. Tapi jelas kami kena dampaknya,” ujarnya.
Dampaknya, harga bawang lokal Brebes merosot tajam jadi sekitar Rp 15.000 per kilogram untuk ukuran sedang. Pada pertengahan hingga akhir Oktober, harga bawang lokal Brebes ukuran sedang masih bertengger sekitar Rp 35.000 per kilogram.
Karena anjloknya harga bawang lebih dari 100 persen, Taryadi dan petani lain di Brebes terpaksa menunda menjual hasil panennya. Meski ukurannya kalah besar dari bawang impor, daya tahan bawang lokal Brebes jauh lebih lama. Menggunakan metode pengasapan di gudang, bawang bisa bertahan disimpan sampai tiga bulan pascapanen.
"Sistem tunda jual terbukti ampuh mendongkrak harga jual," terangnya.
Petani lain di Desa Krasak, Fauzan (25), mengatakan harga bawangnya naik dari Rp 15.000 menjadi Rp 21.000 per kilogram. Ia memanen bawangnya pada pertengahan Oktober. “Saat panen ditawar tengkulak dari Pemalang Rp 15.000 per kilogram. Tapi baru saya lepas tiga hari lalu, penawarannya naik Rp 6.000,” ujarnya.
Fauzan berharap pemerintah lebih serius memperhatikan petani dengan merealisasikan janji menutup keran impor ketika produk lokal sedang melimpah. “Jangan turun ke sawah kalau hanya untuk sekadar mengajak petani berfoto bersama,” tandasnya.