![]() |
|
|
PanturaNews (Bantarkawung) - Puluhan rumah warga Dukuh/Desa Cinanas, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat 26 Pebruari 2010 malam terendam banjir akibat meluapnya Sungai Kuya. Pada saat yang sama, Jembatan Gantung Kubangsari, Desa Pruwatan, Kecamatan Bumiayu putus. Hingga Sabtu 27 Februari 2010 pagi, warga masih sibuk membersihkan rumahnya dari endapan lumpur yang dibawa banjir.
Warga setempat, Sahud (50) menuturkan, banjir datang tiba-tiba ketika warga masih berada di mushola usai melaksanakan sholat Maghrib. Mengetahui air sungai meluap dan masuk ke perkampungan, warga langsung berlari ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan berang-barangnya. "Kami masih di musola, tiba-tiba banjir datang, kami panik dan lari ke rumah masing-masing," ujarnya.
Dikatakan, ketinggian air mancapai setengah hingga satu meter. Air yang bercampur lumpur itu memenuhi halaman dan masuk ke rumah-rumah warga. Sekitar tiga jam air baru surut, dan warga malam itu langsung membersihkan lumpur yang dibawa oleh banjir. "Malam tadi dan sampai pagi ini kami masih membersihkan lumpur yang masuk ke rumah," ujarnya.
Warga lainnya, Arifin (25) mengatakan, air sungai meluap dan tanggul sungai tak mampu menahannya. Tanggul yang dibangun puluhan tahun itu terlalu rendah dan beberapa bagian telah rusak dan belum diperbaiki. "Tanggulnya sudah tak layak lagi, sehingga tak mampu menahan luapan sungai," tuturnya.
Sementara itu Kepala Desa Cinanas, Toat Riyono mengungkapkan, ada 30 rumah warga di RT 01 RW 02 Dukuh Cinanas III yang terendam luapan Sungai Kuya. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, tapi beberapa peralatan rumah tangga milik warga banyak yang rusak akibat terendam air yang bercampur lumpur. "Sekarang kami masih mendata kerugaian yang diderita warga," katanya.
Pada saat yang bersamaan, Jembatan Gantung yang menjadi satu-satunya penghubung bagi ratusan kepala keluarga (KK) yang tinggal di Dukuh Kubangsari, Desa Pruwatan, Kecamatan Bumiayu, putus. Jembatan dengan ukuran panjang 36 meter dan lebar satu meter dan melintang di atas Sungai Pemali itu, putus setelah diterjang arus deras sungai.
Sadimin (55) warga setempat mengatakan, Jembatan Gantung putus akibat diterjang arus sungai yang deras dan meluap hingga melebihi ketinggian dasar jembatan yang baru selesai dibangun tahun 2009 lalu. "Air sungai meluap sampai di atas jembatan, tiang penyangga jembatan lepas dan jembatan putus," katanya.
Putusnya jembatan gantung tersebut, mengakibatkan ratusan KK yang tinggal di Dukuh Kubangsari terisolir. Untuk keluar atau menuju ke dukuhnya, warga terpaksa harus turun menyeberangi sungai. Anak-anak sekolah terpaksa juga menyeberangi sungai ketika berangkat atau pulang sekolah. kondisi tersebut hanya bisa dilakukan ketika tidak hujan dan air sungai tidak deras.