![]() |
|
|
PanturaNews (Sirampog) - Keagungan dari ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad Rosulullah Shalallahu alaihi wasalam (SAW) adalah konsep rohmatal lil'alamin atau sebagai rahmat bagi seluruh alam. Konsep ini yang kemudian oleh Nabi SAW diwujudkan dalam bentuk akhlak yang mulia. Dari konsep itulah yang kemudian merubah orang-orang yang mulanya ahli maksiyat menjadi ahli ibadah.
Demikian diungkapkan oleh dalang kondang asal Tegal, Ki Enthus Susmono usai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hikmah 01 Benda Kecamatan Sirampog, Brebes, Jawa Tengah, Kamis 25 Februari 2010 malam. "Jadi Nabi kita itu ibarat bengkel bagi orang-orang yang rusak," ujarnya.
Menurutnya, orang-orang yang sering melakukan kesalahan kemudian taubat dan menjadi baik dalam naungan Islam. Empat sahabat besar yang kemudian menjadi Khulafaur Rosyidin, hanya Ali bin Abi Tolib yang murni dan polos. Maka sekarang ini, mereka yang ahli maksiyat itu sebenarnya punya potensi untuk menjadi baik, tinggal bagaimana merubahnya saja. "Selama ini mereka tekun berjam-jam menghadapi kartu-kartu judi, maka bagaimana agar yang dihadapi itu bukan kartu tapi kitab. Artinya, semangatnya tetap tapi adepane sing diganti," terang Ki Enthus.
Dikatakan, sekarang ini yang terjadi di masyarakat kita orang senangnya memaksakan kehendak, sedikit-sedikit pokoke dan sedikit-sedikit demo. Tapi perlu diingat bahwa orang yang melakukan itu bukan dari kalangan santri, melainkan para mahasiswa. Belum pernah dengar ada santri demo dan mengatakan pokoke. Sebab, kelebihan santri itu adalah takdim pada kyai atau gurunya. "Celakanya kalau kemudian kyainya yang dibeli," kata Enthus.
Demo boleh tapi ada aturannya, katanya lagi, karena Indonesia ini negara hukum. Demo untuk menyampaikan pendapat boleh, tapi demo yang sekarang ini marak dilakukan, sungguh berbeda dengan demo di jaman dulu dan sekarang ini demo tidak lagi efektif. "Kalau dulu demo itu spanduknya kumal dan lusuh, sekarang demo spanduknya mentereng dan prin-prinan yang berarti di belakang itu ada yang membiayainya," ungkap Enthus.
Dalam pandangan Ki Enthus, demo sekarang ini sarat muatan politis, sehingga sampai ada kerbau yang ditulisi nama presiden, ada pejabat yang digambarkan seperti drakula. Demo semacam itu jelas melanggar, itu namanya pencemaran nama baik dan pebuatan tidak menyenangkan. "Apakah seperti itu wajah atau budaya orang Indonesia," katanya dengan nada bertanya.
Kata dia, kondisi itu terjadi karena faktor pendidikan agama yang tidak terjamin. Solusi untuk merubah budaya tersebut, pemerintah jangan pilih kasih dan dikotomi dalam hal pendidikan, 20 persen anggaran pendidikan harus disisihkan untuk pesantren. "Jadi solusinya yang pertama pesantren harus diperhatikan, sebagian anggaran pendidikan harus disisihkan untuk pesantren," ucapnya.
Solusi kedua, ucap Enthus lagi, kurikulum pendidikan agama harus ditambah. Sekarang ini di sekolah umum satu mingu hanya satu jam atau satu kali belajar agama. Sehingga yang terjadi mereka pandai dan pinter serta hebat, tetapi akhlaknya tidak baik karena pemahaman agamanya kurang. Jangan heran kalau sekarang ini banyak orang yang berpendidikan tapi tidak bermoral. Sementara ada yang tidak mengenyam pendidikan formal karena hanya lulusan pesantren tapi lebih bermoral. "Maka sekali lagi pelajaran agama di sekolah umum harus ditambah," tegasnya.
Acara peringatan Maulid Nabi SAW yang digelar Masjid Al Hikmah yang ada di komplek pesantren itu dipadu dengan kegiatan Mujahadah atau doa bersama yang rutin dilaksanakan tiap malam Jumat Kliwon dan dipimpin langsung oleh Pengasuh Ponpes, KH Labib Sodik. Ki Enthus sempat berceramah tentang hikmah maulid pada acara tersebut sekitar 20 menit. Acara diikuti oleh ribuan muslimin dari berbagai daerah sekitar Brebes dan Tegal itu berakhir pada pukul 24.00 WIB.