Di Pilgub Jawa Tengah, PDI-P Memang 'Gagah'
--None--
Selasa, 28/05/2013, 07:01:22 WIB

DRAMA Politik menuju Jawa Tengah (Jateng) satu telah memberikan sebuah spasi dan pelajaran yang berharga bagi pemerhati dinamika perilaku pemilih. Gejala ini dimulai dari terjadinya semacam drama oligarki politik menuju Jateng satu. Dimana DPP PDI Perjuangan (PDI-P) lebih menggunakan pemilihan primer (primary elections), baik itu terbuka maupun tertutup.

Akan tetapi cara yang digunakan kurang sedikit demokratis, karena lebih menekankan pada aspek loyalitas dan tidak melibatkan partisipasi kader apalagi konstituen partai secara luas. Sehingga calon yang muncul adalah Ganjar Pranowo, dan otomatis Rustriningsih yang mempunyai kans lebih besar harus tersinggkir dari ritual ini. Hal ini dilakukan karena beberapa pertimbangan, salah satunya loyalitas Ganjar lebih diunggulkan dibandingkan Rustriningsih. Walaupun elektabilitas Ganjar dirasa masih jauh tertinggal dibandingkan dengan Rustriningsih.

Awal mula calon yang diusung inilah yang menjadikan massa basis merah mendapatkan isu perpecahan dimata lawan politik. Apalagi ditambah dengan langkah Rustriningsih yang sedikit banyak mencitrakan kekecewaannya terhadap keputusan DPP PDIP menjadikan calon lain memanfaatkan kesempatan ini untuk mendulang limpahan suara loyalis Rustriningsih. Tapi sayangnya Rustriningsih tidak begitu membahayakan langkah PDIP untuk dapat mempertahankan Jawa Tengah dari basis kekuasaanya. Walau banyak pihak yang menilai langkah Rustriningsih jelas akan berdampak politis terhadap elektabilitas Ganjar Heru, apalagi mantan Bupati Kebumen ini dikenal mempunyai basis kuat.

Bekerjanya Mesin Politik

Dengan slogan “Gagah” (Ganjar Gandeng Heru) DPP PDI Perjuangan berusaha mengerakkan mesin partai dengan memaksimalkan beberapa kader-kader potensial untuk ikut langsung dalam perhelatan pilkada. Tidak tanggung-tanggung beberapa kader potensial ikut terjun menjadi juru kampanye Ganjar Heru. Jokowi dan bahkan Megawati pun harus turun langsung mempertahankan wilayah Jateng yang terkenal basis kekuasaan partai moncong putih ini.

Ditambah lagi dengan gencarnya pemberitaan hasil survei dari beberapa lembaga survei yang menempatkan Bibit Sudijono sebagai pemenang Jateng satu, membuat DPP PDIP berusaha untuk memutar otak agar dapat membalikkan keadaan.

Kerja-kerja organisatoris sebuah partai kader pun dapat berjalan dengan baik, bahkan direct selling yang selama ini menjadi senjata pamungkas PKS atau semacam gerakan door to door diterapkan oleh beberapa kader militan PDI Perjuangan. Untungnya PDI Perjuangan terbantu dengan sebuah survei yang digelar Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC) yang menempatkan Ganjar Heru sebagai pemenang.

Survei ini menjadi satu-satunya lembaga survei yang berani menempatkan pasangan Gagah menjadi nahkoda Jateng. Berbekal hasil survei inilah banyak kader-kader PDIP mendapatkan darah segar untuk mempertahankan wilayah Jateng.

Namun setelah pilkada berlangsung dan beberapa lembaga survei menggelar hitung cepat (quick qount) sebuah fakta yang sangat fantastis, ketika pasangan Gagah dapat mampu mengungguli pesaingnya diatas angka rata-rata bahkan melebihi hasil perolehan suara pada pemilu 2008 yaitu 43,44 persen.

Perolehan suara yang luar biasa ini tidak ada yang menduga sama sekali dikarenakan isu perpecahan suara dari Rustriningsih dan kurang populernya Ganjar Heru di wilayah Jawa Tengah. Akan tetapi melihat hasil perolehan quick qount seperti LSI, Indo Barometer maupun BERC terlihat jelas pasangan Gagah mendapatkan suara dikisaran 50 persen dan bisa dipastikan sangat sulit terkejar oleh pasangan lainnya.

Dari sini kita dapat memahami bahwa drama pilkada Jateng pun tidak hanya berkutat pada PDIP saja, partai pengusung Bibit Sudijoni dan HP Don pun mengalami beberapa kendala. Salah satu partai yang kentara memperjuangkan calonnya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS berusaha bekerja semaksimal mungkin baik itu melalui gerakan pemilih pemula maupun media sosial berusaha menyakinkan pemilih Jateng dengan tujuan memperbaiki citra politisinya dihadapan rakyat pasca terbongkarnya kasus suap impor daging.

Tapi sayangnya mesin politik HP Don hanya bertumpu pada PKS, sedangkan disisi lain PKS sedang terbelit kasus suap yang tidak jelas kapan akan berakhirnya. Inilah yang menjadikan mesin pemenangan HP Don kurang mengigit, ditambah lagi PKS kurang mempunyai taring diwilayah Jateng. Ini bisa terlihat dari kurangnya dukungan politik santri di pasangan HP Don. Padahal jelas-jelas HP Don didukung oleh beberapa partai Islam.

Epilog

Melihat realitas dinamika perilaku pemilih terlihat jelas bahwa ketokohan dan mesin partai sangat mempengaruhi perilaku pemilih yang berbanding lurus dengan elektabilitas calon dalam kontestasi pilkada. Faktor ketokohan Jokowi dan Megawati telah menjadi magnet tersendiri bagi kembali dan bersatunya massa basis merah dalam pilkada Jateng 2013 ini. Kekalahan beruntun yang dialami oleh PDIP baik di Pilkada Jabar dan Sumut telah menjadikan cambuk tersendiri bagi kader PDIP untuk dapat memenangi pilkada Jateng, apalagi Jateng merupakan basis PDI Perjuangan terkuat ditanah air.

Kemenangan “Gagah” patut diapresiasi karena dibeberapa basis partai Islam dan PKS, pasangan ini mampu mempermalukan HP Don dan Bibit Sudijono dikandang sendiri, seperti di zona wilayah yang termasuk Wonosobo pasangan Gagah dapat mengungguli pasangan HP Don. Factor Jokowi’s Effect sangat berperan penting dalam pilkada Jateng. Ditambah lagi serangan udara melalui iklan politik membuat para pemilih dan loyalis PDIP tetap menyalurkan suara pada pasangan resmi yang diusung DPP PDIP. Kemenangan ini membuktikan PDIP memang gagah.

Semoga kemenangan ini akan menjadikan PDIP sebagai salah satu partai kader yang mampu terus melembagakan parpolnya sebagai sebuah kesatuan yang komprehensif dalam proses pendidikan politik.

(Bambang Arianto adalah Peneliti Partai Politik di Bulaksumur Empat Research and Consulting (BERC). Tinggal di Sembung Sukoharjo, Ngaglik Sleman, Daerah 

Istimewa Yogyakarta)