Tak Punya Rumah, Keluarga Miskin Tidur di Los Pasar
-Laporan Takwo Heriyanto
Kamis, 16/05/2013, 06:21:16 WIB

Riska mempersiapkan buku pelajaran yang diambil dari tas di gubuknya untuk belajar di pasar (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Akibat rumah gubuk yang ditempatinya di tengah sawah bekas kandang kambing ambruk karena dimakan usia, satu keluarga miskin di Desa Klampok, Kecamatan Wansari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah yang berjumlah lima orang, terpaksa menempati salah satu los pasar bawang sebagai tempat tidur setiap malam saat cuaca kondusif.

Keluarga miskin tersebut bernama, Yakub (70) dan istrinya Beti (35), bersama tiga anak perempuan masing masing Riska (12), Dini (6) dan Elsa (3). Meski kondisi hidupnya sangat memprihatinkan, namun keluarga miskin tersebut tak putus asa untuk terus berusaha menghadapi nasib yang dialaminya itu.

Bahkan, dengan semangat hidupnya itu, mereka secara bergotong royong merubah kandang kambing yang ada di samping gubuk lama yang ambruk itu, menjadi tempat tinggal sehari-harinya pada saat cuaca sedang kondusif. Sementara kambing titipan orang dibiarkan berada di luar.

Pada musim seperti sekarang, hampir tiap malam hari mereka menumpang tidur diatas kotak papan milik pedagang. Selain untuk tidur, Pasar Bawang Klampok juga dipakai sebagai tempat belajar. Setiap malam, Riska (12) anak sulung Yakub yang duduk dibangku kelas VI SD Negeri 1 Klampok tersebut, memanfaatkan lampu penerangan pasar untuk belajar.

Sebab, gubuk bekas kandang kambing di tengah sawah yang mereka tempatinya tidak memiliki penerangan yang cukup. Satu satunya alat penerangan adalah obor yang ditempel di dinding. Selain belajar di atas kotak papan tersebut, Riska juga menidurkan adiknya yang tahun ini akan masuk kelas 1 SD.

Beberapa pekerja di pasar bawang tersebut mengaku sangat trenyuh dengan kehidupan keluarga ini. Tidak jarang mereka belum tidur hingga larut malam karena belum makan. “Kadang saya kasihan, sehingga sering tak kasih makan kalau pas ada uang lebih,” kata Darwoto, Satpam Pasar Klampok saat dikonfirmasi PanturaNews.Com, Kamis 16 Mei 2013.

Sepertinya, untuk hidup layak masih jauh dirasakan keluarga ini. Sebab, Yakub sebagai kepala keluarga mengalami sakit paru paru, sehingga tidak bisa bekerja maksimal. Dia hanya mencari rumput untuk makan kambing titipan orang lain. Sejak Yakub sakit, semua beban keluarga ditimpakan ke istrinya Beti.

“Setiap hari saya bekerja sebagai buruh petik bawang. Penghasilannya tidak menentu. Kadang Rp 15 ribu kadang Rp 20 ribu. Itu saja tidak setiap hari berangkat, karena suami saya sakit,” ujar Beti.

Padahal, jika melihat pada anggaran untuk program pengentasan kemiskinan dari Pemkab Brebes yang digelontorkan melalui APB tahun 2013, nilainya sebesar Rp 1,7 triliun.

Namun, uang sebesar milik rakyat Kabupaten Brebes itu, sama sekali belum menyentuh kapada keluarga miskin tersebut. Bahkan, tidak serupiahpun dana program pengentasan kemiskinan sampai kepada keluarga Yakub.