![]() |
|
|
PanturaNews (Ponorogo) - Pengelolaan Obyek Wisata Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dinilai tidak optimal. Buktinya, obyek wisata dengan keindahan alam yang potensial itu, masih minim dalam memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yakni sekitar Rp 300 juta.
Padahal, jika dikelola dengan baik, Telogo Ngebel mampu menyerap PAD milyaran rupiah setiap tahun. "Minim sekali jika dibandingkan dengan obyek wisata lainya, contohnya Sarangan, disana mampu memberikan PAD sekitar Rp 1 milyar lebih pertahun, padahal potensinya tidak jauh beda dengan Ngebel," ujar Pengamat Perpariwisatan, Sutarlan, Minggu 14 Maret 2013.
Menurut Sutarlan, Pemkab Ponorogo tidak optimal dalam mengelola wisata Telogo Ngebel. Bahkan terkesan tidak memiliki upaya untuk memajukan obyek wisata yang setiap tahun diberlangsungkan untuk larung sesaji itu.
"Mestinya, status Telogo Ngebel sebagai obyek wisata keluarga dihapus dan diganti wisata apa lah, biar pengunjungnya datang dari mana-mana. Kalau hanya keluarga, berapa sih jumlah rombongan keluarga, sedikitkan, kalau pengunjungnya sedikit otomatis pendapatanya juga minim," terangnya.
Selain itu, Pemkab perlu memperluas akses jalan yang menuju lokasi obyek wisata, sebab jalan yang menuju obyek nampak sempit dan sulit dilalui bus ukuran besar. Kerjasama dengan pihak lain diperlukan seperti Perhutani dan lain-lain, sebab beberapa jalan masih milik Perhutani sehingga perlu kerjasama yang baik.
"Saya yakin kalau Perhutani mau diajak kerjasama asalkan prosedur dan mekanismenya jelas," lanjut Sutarlan.
Sementara pihak kecamatan setempat saat dikonfirmasi mengatakan tidak berwenang mengembangkan obyek wisata tersebut. Sedangkan Dinas Pariwisa Ponorogo, ketika hendak dikonfirmasi tidak ada pejabat satu pun yang bisa dikonfirmasi, mereka tidak ada ditempat.