![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Kentongan menjadi alat komunikasi bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali bagi warga Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Di Desa Pakijangan ini, kentongan yang tersimpan dan dilestarikan oleh Kepala Desa (Kades) sebagai cagar budaya.
Namun, uniknya untuk di Desa Pakijangan, apabila Kades pemenang pemilihan kepala desa (pilkades), maka mendatangi mantan Kades yang kalah untuk meminta kentongan yang sudah turun-temurun dilakukan sejak tahun 1874.
Sebelum meminta kentongan tersebut, para mantan Kades dikumpulkan di rumah Kades yang baru untuk mendapatkan jamuan minum teh yang disajikannya. Selanjutnya Kades yang baru menuju rumah mantan Kades untuk mengambil kentongan.
Setelah itu, kentongan diarak keliling Desa Pakijangan dengan diikuti para mantan Kades, Perangkat Desa serta masyarakat untuk menuju rumah Kades yang Baru. Sesampainya di rumah kentongan tersebut dimandikan. Usai dimandikan kentongan dibawa ke kamar kades yang baru.
Pengamat budayawan pantura, Drs. Atmo Tan Sidik mengatakan, kentongan itu bisa dikategorikan sebagai benda cagar budaya, karena telah lebih dari 50 tahun dan mempunyai arti penting bagi kebudayaan bangsa.
"Disamping itu, juga bisa memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri bangsa," ujar Atmo Tan Sidik yang juga mantan Kades Pakijagan usai acara serah terima kentongan tersebut, Jumat 22 Maret 2013.
Atmo menjelaskan, kentongan Kades Pakijangan terbuat dari kayu jati murni yang memiliki panjang 1,5 meter dengan diameter 45 cm. Secara turun temurun kentongan tersebut dipindah tangankan ke Kades. Menurutnya, kentongan kali pertama diperkenalkan oleh Ki Ageng Selo.
"Ketika menabuh di Pondok Pesantren luhur milik Ki Ageng Selo itu, beliau berpesan agar menjaga pitu pepali atau ajaran yang musti dipatuhi para pemimpin di tanah jawa, termasuk kepala desa.