Pemukulan Mahasiswa akan Dibawa ke Jalur Hukum
-Laporan SL Gaharu & Sapto Bimantoro
Kamis, 21/02/2013, 11:44:34 WIB

Mahasiswa korban pemukulan aparat, Rosyid Ridho (kiri) berbincang dengan rekannya di ruang perawatan RSUD Kardinah (Foto: Gaharu)

PanturaNews (Tegal) - Para mahasiswa korban pemukulan aparat saat demo kedatangan Presiden SBY dan soal penegrian Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Jawa Tengah, akan membawa kasusnya ke jalur hukum. Dari enam mahasiswa yang diamankan, rata-rata kena pukul semua, namun yang mengalami luka fisik di bawah mata dan kening hanya satu dan harus dirawat di rumah sakit.

Demikian dikatakan Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) UPS Tegal, Desky Danu Aji, Kamis 21 Februari 2012 pukul 10.15 WIB, di RSUD Kardinah Kota Tegal saat menunggui rekannya yang di rawat karena luka kena pukulan aparat, yakni Sekretaris BEM FE UPS Tegal, Rosyid Ridho. Menurutnya, satu aparat yang memukul menggunakan pakaian preman.

“Untuk langkah selanjutnya kami akan menempuh jalur hukum sesuai dengan prosedur. Oknum-oknum yang melakukan pemukulan harus minta maaf. Intinya, jalur hukum harus tetap berjalan, dan yang terlibat harus bertanggung jawab, minta maaf kepada publik dan mahasiswa. Kami juga tidak mau aparat pelaku pemukulan tetap tugas disini, karena kami khawatir pada aksi-aksi mahasiswa selanjutnya akan terjadi hal yang sama,” tutur Desky.

Diterangkan, peristiwa pemukukan mahasiswa di perempatan Kalimati Jalan Setiabudi Kota Tegal, terjadi Rabu 20 Februari 2013 sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, ketika mahasiswa akan melakukan orasi, dihadang puluhan polisi dari Polres Tegal Kota. Enam mahasiswa UPS diamankan dan dibawa ke Mapolres Tegal Kota, dan Rosyid Ridho dilarikan ke RSUD Kardinah Tegal. Insiden pemukukan di perempatan Kalimati, selang beberapa saat setelah mahasiswa orasi di Gedung DPRD Kota Tegal.

Sementara Rosyid Ridho yang masih terbaring di ruang perawatan RSUD Kardinah, mengatakan sangat tidak mengira aparat bertindak demikian keras. Menurutnya, setelah menggelar orasi di Jalan Harmahera dan Gedung DPRD Kota Tegal, belasan mahasiswa rencanaya akan pulang ke kampus namun mampir dulu di warung makan.

“Sambil pulang kami akan membagikan selebaran tentang penegrian UPS. Tapi begitu sampai di perempatan Kalimati, tiba-tiba polisi datang dan langsung menangkap beberapa mahasiswa. Saat itu kami bertiga (Rosyid, Desky dan Miftahudin) berpegangan, dan saat kami terjatuh tiba-tiba saya mendapat pukulan,” tutur Rosyid.

Ditambahkan Desky Danu Aji, atas kejadian tersebut semua mahasiswa dari Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes sudah melakukan kordinasi. Masing-masing wilayah akan mengadakan aksi solidaritas soal tindakan represif aparat terhadap aksi mahasiswa.

“Direncanakan siang ini (Kamis-Red) ada dua titik, di Kabupaten Tegal dan Kota Tegal akan menggelar aksi solidaritas tentang tindak represif aparat. Kemudian jaringan mahasiswa se Indonesia juga sudah minta kabar kepada kami, tentang kronologisnya dan siap menggelar aksi-aksi solidaritas,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, jelang kedatangan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Kabupaten Tegal melalui Stasiun Kereta Api (KA) Kota Tegal, Jawa Tengah, belasan mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, menggelar demo di gerbang Jalan Halmahera dan DPRD Kota Tegal, Rabu 20 Februari 2013 siang.

Demo mahasiswa dikawal ketat aparat dari Polres Tegal Kota sebanyak 1 SSK serta anjing pelacak. Setelah orasi di Gerbang UPS Jalan Halmahera, mahasiswa berjalan menuju gedung DPRD Kota Tegal menyusuri Jalan Yos Sudarso.