![]() |
|
|
PanturaNews (Pemalang) - Lahan sawah yang kering akibat kemarau panjang tahun ini, dimanfaatkan oleh sebagian warga Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, untuk membuat batu bata.
Ada sekitar 24 kelompok pembuat batu bata yang secara berkelompok memproduksi batu bata di areal seluas 3/4 bau milik salah satu petani. Satu kelompok terdiri dari 2 sampai 5 orang yang rata-rata adalah keluarganya sendiri.
Menurut penuturan Ropi'i (37) salah satu pembuat batu bata, dalam proses pembuatan batu bata diperlukan bahan-bahan pendukung seperti sekam dan tanah. Kedua bahan tersebut selanjutnya di campur (diulet-red) dengan bahan lain, yaitu air hingga menjadi bubur tanah.
Setelah itu didiamkan selama 1 hari 1 malam, esoknya baru bisa dicetak dengan menggunakan alat cetak manual yang sudah disiapkan. Rata-rata untuk ukuran normal 1 pasang pembuat batu bata (sebanyak 2 orang, pencetak dan pembantunya), dapat memproduksi sekitar 500 - 700 buah batu bata mentah per hari.
Sementara menurut Sugri (40) saat ditemui PanturaNews, Rabu 19 September 2012 malam, sedang sibuk membakar batu bata hasil cetakannya. "Saat ini saya sedang melakukan pembakaran sebanyak 15.000 batu bata. Itu saya kerjakan bersama istri saya kurang lebih 2 bulan lamanya," kata Sugri didampingi istrinya Rutisah.
Dikatakan, bahwa inisitaif yang dia lakukan bersama teman-teman lainnya merupakan terobosan baru untuk mengisi kekosongan waktu tidak bisa turun dan menggarap sawahnya karena dilanda kemarau yang cukup panjang, disamping faktor irigasi yang tidak bisa mengairi sejumlah persawahan karena masih dalam tahap perbaikan yang memakan waktu cukup lama. "Pokoknya lumayan lah buat nyambung kebutuhan hidup," imbuhnya.
Dasrun (60), orang yang dianggap berpengalaman dalam hal pembuatan batu bata, secara rinci menjelaskan bahwa jika dikalkulasi masih ada keuntungan bersih sekitar Rp. 3.300.000, per produksi 15.000 batu bata merah. Itu berati jauh lebih bagus daripada petani yang menggarap sawahnya antara 1/2 sampai 3/4 bau dengan keuntungan bersih sekitar 2 sampai 3 juta rupiah dengan waktu pemeliharaan sampai 3 bulan lebih.
Dijelaskan, seorang pembuat batu bata hanya mengeluarkan Rp. 430.000 untuk membiayai produksi hingga pembakaran 1.000 buah batu bata. Sehingga jika produksinya 15.000 untuk satu kali pembakaran, maka uang yang dikeluarkan sejumlah Rp. 6.450.000.
Harga batu bata merah di pasaran saat ini adalah Rp. 650 per biji, dikalikan 15.000 maka akan memperoleh Rp. 9.750.000. Pendapatan sebesar itu dikurangi pengeluaran Rp. 6.450.000 akan memperoleh sisa sebesar Rp. 3.300.000. "Itu bersih, tenaga kerja sudah termasuk yang Rp. 430.000 itu", katanya.
Asumsi Dasrun sangat masuk akal, pasalnya petani padi yang menggarap sawahnya dengan berbagai sarana pendukung seperti harus menyediakan bibit yang unggul, biaya traktor, biaya tanam, pemeliharaan dan lain-lain belum lagi resiko jika terkena hama sangat kompleks baik dari segi penanganannya maupun biaya yang dikeluarkan.
Sehingga alternatif tersebut merupakan solusi terbaik bagi warga yang selama ini lahan arelanya kering, daripada dibiarkan lebih baik dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata merah, bersama komunitas pembuat batu bata yang saat itu sedang membakar batu bata milik Sugri, anaknya.