![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Banyak ‘Pak Ogah’ atau peminta-minta di sepanjang jalan kabupaten ruas Karangsawah - Purwodadi - Linggapura, yang menjadi jalur alternatif setelah ditutupnya jalan nasional ruas Jakarta-Tegal-Purwokerto, tepatnya di jalur tanjakan Ciregol, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Brebes, Jawa Tengah, untuk mempercepat proses perbaikan.
Pantauan PanturaNews.Com, Minggu 15 Juli 2012 sore di jalur akternatif sepanjang tujuh kilometer itu, ada 25 titik yang menjadi tempat beroperasinya para ‘pak ogah’. Keberadaan mereka ada yang membantu para pengemudi, tetapi tidak sedikit yang hanya memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan.
"Sebagian ada yang membantu mengatur lalu-lintas, terutama di jalan yang sempit dan menikung, tapi banyak juga yang justru memanfaatkannya untuk mencari uang dengan meminta uang receh pada pengguna jalan," kata Asrofi (40) salah satu pengemudi mobil.
Tidak sedikit pula diantara 'pak ogah' itu yang menggerutu dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas pada pengemudi kendaraan yang tidak memberi uang pada mereka. "Kata-kata pelit atau tidak tahu terimakasih, seringkali muncul dari sebagian mereka pada pengemudi yang tidak memberi uang receh," kata Yanto (47) salah satu pengemudi pula.
Ironisnya pula, diantara 'pak ogah' itu ada dari kalangan anak-anak di bawah umur. Tanpa rasa takut anak yang masih tergolong balita itu, beridiri di pinggir jalan yang sempit dengan tangan kanannya memegang wadah dari plastik untuk tempat uang, sementara tangan kirinya diulurkan ke depan pada setiap kendaraan yang melintas.
Tak jauh dari tempat itu, para orang tua yang terkesan acuh dengan keberadaan anak-anak yang menjadi 'pak ogah' itu. "Entah seneng anaknya bisa cari uang, atau memang tak peduli pada keselamatan anaknya," ucap Yanto.