Perang Baliho Antar Balon Bupati Incumbent Memanas
TK-Takwo Heriyanto
Selasa, 15/05/2012, 07:00:29 WIB

Baliho bakal calon bupati terpasang di sudut-sudut kota dan desa (Foto:Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Suhu politik menjelang Pemilukada Brebes, Jawa Tengah, kian memanas. Ini terlihat dari semakin maraknya baliho-baliho bergambar bakal calon (Balon) bupati untuk Pemilukaka Brebes 07 Oktober 2012 di sudut-sudut kota dan desa.

Dari sekian kandidat yang disebut-sebut akan menjadi bakal calon Bupati Brebes, adalah baliho H. Agung Widyantoro SH MSi yang kini masih menjabat bupati dan Hj. Idza Priyanti Amd yang juga wakil bupati.

Kendati kalah jumlah baliho dari Agung, namun kehadiran baliho Idza menadaskan bahwa orang nomor dua di Kabupaten Brebes ini ingin menggantikan posisi Agung. 

Agung sendiri yang merupakan calon incumbent yang sudah dipastikan akan diusung Partai Golkar, belum melakukan langkah koalisi. Sedangkan Idza yang juga sebagai calon incumbent, hingga kini masih menungu keputusan/rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan.

"Peluang Agung menjadi bupati menggantikan H. Indra Kusuma, nampaknya terbuka lebar. Apalagi masyarakat yang merupakan pendukungnya, mengaku sudah merasakan hasil pembangunan selama hampir dua tahun itu. Namun, jangan kecilkan peluang Idza dan bakal calon lain yang mungkin sudah memiliki strategi lain untuk mengalahkan Agung," kata tokoh pemuda Brebes, Bustanul Arifin," Selasa 16 Mei 2012.

Menurutnya, bahwa Agung lebih berpeluang tidak bisa dipungkiri. Apalagi sebagai incumbent, ia bisa memanfaatkan jabatan untuk lebih mendekatkan kepada masyarakat.

Tuduhan kepada Agung yang saat ini sering bersilaturahmi ke daerah-daerah terkait pencalonannya sebagai suatu kampanye sah-sah saja. Namun, harus diingat, secara undang-undang Agung masih sebagai bupati jadi tidak melanggar. "Itulah enaknya menjadi incumbent," ujarnya.

Namun pandangan lain keluar dari salah seorang warga masyarakat Kecamatan Brebes, Afif Arfani. Menurut dia, kendati tidak melanggar namun berkunjunag ke daerah-daerah, biasanya mengeluarkan biaya seperti memberikan sumbangan-sumbangan kepada warga.

"Kalau dananya dari kantong pribadi tidak masalah, tapi ini dari kas daerah yang tujuannya untuk kepentingan pribadi, jelas menyalihi," pungkasnya.