![]() |
|
|
PanturaNews (Jakarta) - Saat ini kaum wanita Indonesia sudah tidak bicara soal emansipasi wanita lagi. Karena emansipasi wanita sudah berhasil diperjuangkan oleh R.A Kartini, dimana saat itu kaum wanita hanya menjadi budak dan obyek para kaum pria.
Emansipasi secara harfiah berarti pembebasan dari perbudakan atau mencari persamaan hak. Di era sekarang, kaum wanita Indonesia sudah banyak memberikan andil dan kontribusi penting dalam pembangunan negara ini, dan tidak jauh berbeda dengan kaum pria. Maka sudah tidak jamannya lagi kaum wanita berbicara emansipasi.
Demikian dikatakan Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Dewi Aryani, M.Si saat menjadi pembicara dalam diskusi di DPP KNPI, Jakarta, Jumat 20 April 2012.
"Jadi sudah saatnya kaum wanita berbicara perannya dalam pembangunan Indonesia, bukan bicara emansipasi wanita lagi. Kaum wanita Indonesia sekarang, harus menjadi mitra yang sejajar dan sederajat dengan kaum laki-laki," kata Dewi yang dihubungi PanturaNews via telepon, Sabtu 21 April 2012 pagi.
Dikatakan, saat ini kaum perempuan Indonesia jangan pernah takut dijauhi kaum lelaki, karena kaum lelaki akan mencari wanita, bukan sebaliknya. Sudah banyak wanita-wanita cerdas yang menjadi public figure dan berani mengemukakan pendapatnya. Kaum wanita akan menjadi penopang sekaligus pendukung pembangunan manusia dan perekonomian Indonesia.
Lebih jauh Dewi memaparkan tentang wanita terkait peringatan Hari Kartini, bahwa lebih dari 60 tahun lalu, Bung Karno telah memberikan angin sejuk dan harapan besar bagi Bangsa Indonesia melalui lima butir dasar negara, yaitu Pancasila yang dikatakannya sebagai pijakan karakter ke-Indonesia-an kita.
"Masing-masing butir syarat dengan makna, dan sangatlah dangkal ketika kita memahaminya sebatas frase. Melalui kelima sila tersebut, Bung Karno menginginkan agar Bangsa Indonesia selalu melandaskan pembangunan nasional dan pembangunan karakter bangsanya," ujar kandidat Doktor Administrasi dan Kebijakan Publik Universitas Iindonesia ini.
Menurutnya, salah satu butir yang harus melekat dan tidak boleh disegregasikan dalam pembangunan nasional (nation building) dan pembangunan karakter bangsa (capacity building), adalah butir kelima Pancasila, 'Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia'. Sila kelima mengimplisitkan semangat untuk mengedepankan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan, atas kondisi keberagaman yang dimiliki bangsa ini.
“Dalam kaitannya dengan nation building dan capacity building, sila kelima setidaknya menekankan pada dua hal. Pertama, pembangunan harus dilandaskan pada keadilan dan kemerataan distribusi,” tandasnya.
Kedua, lanjut Dewi, setiap elemen masyarakat berhak atas akses yang setara untuk memberikan sumbangsihnya bagi pembangunan. Apapun latar belakang budaya, pendidikan, jenis kelamin, status sosial dan ekonomi, maka tidak ada halangan baginya untuk mendapatkan keduanya.
Atas dasar itu, kata Dewi, posisi perempuan dalam pembangunan tidak lagi dapat disangkal kehadirannya. Melalui potensi dan karakter unik yang berbeda dengan laki-laki, perempuan sangat dibutuhkan dalam mendorong pembangunan.
"Sudah saatnya wanita berkiprah dalam segala hal yang membanggakan kaum wanita Indonesia, serta menjadi mitra kaum lelaki yang sederajat dalam pembangunan berkeadilan di Indonesia," tutur Dewi yang pada bulan Juni akan meraih gelar Doktor tercepat dalam sejarah Universitas Indonesia.
Diketahui, diskusi yang diselenggarakan oleh DPP KNPI dengan tema "Membedah Kembali Ide Ide Kartini dan Merumuskan Langkah Strategis Gerakan Perempuan Indonesia" ini, dibuka olek Ketua Umum KNPI, Taufan EN Rotorasiko, dihadiri tokoh-tokoh perempuan dari berbagai kalangan, antara lain, Rita Widyasari (Bupati Kutai Kartanegara), Olivia Zalianty (Pekerja Seni), Dewi Aryani (Politisi PDI Perjuangan) dan Rina Fahmi Indris (Ketua Umum IWAPI).