Hasil Panen Padi MSP Lebih Banyak Dari Jenis Lainnya
GHJay-SL. Gaharu & Riyanto Jayeng
Selasa, 13/03/2012, 05:50:39 WIB

Tim dari Departemen Pertanian DPP PDI Perjuangan berdiskusi hasil panen di persawahan Desa Pamengger bersama kepala desa setempat (Foto: Nino Moebi)

PanturaNews (Tegal) - Hasil panen padi jenis Mari Sejahterakan Petani (MSP) yang dikembangkan DPP PDI Perjuangan, lebih banyak dari padi jenis lainnya. Perbandingannya, tanam padi MSP pada lahan seluas satu hektar, bisa menghasilkan padi 1 hingga 2 ton diatas jenis padi lainnya, serta tahan terhadap hama dan serangan tikus.

Demikian dikatakan Anggota Departemen Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan DPP PDI Perjuangan, Damayanti Wisnu Putranti SIP, Selasa 13 Maret 2012. Menurutnya, hal itu sudah dibuktikan dalam uji coba di beberapa daerah di Dapil Jawa Tengah IX yang meliputi Kabupaten Tegal, Kota Tegal dan Kabupaten Brebes.

Pada panen perdana padi MSP di Desa Pamengger, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Sabtu 10 Maret 2012 siang kemarin, dari uji coba di lahan milik Kepala Desa Pamengger, Ihang, seluas 800 meter persegi, menghasilkan gabah sebanyak 692 kilogram. Jika ditanam di lahan seluas satu hektar, maka akan menghasilkan 8, 65 ton gabah.

“Desa Pamengger salah satu keberhasilan uji coba padi MSP yang dikembangkan DPP PDI Perjuangan untuk mensejahterakan petani,” ujar Damayanti sebagai motor pengembangan padi MSP di Dapil Jawa Tengah IX.

Panen perdana padi MSP di Desa Pamengger, dihadiri Ketua Departemen Pertanian DPP PDI Perjuangan, DR Ir Lukman Hakim Sibuea, Ketua Departemen Kesehatan DPP PDI Perjuangan, Sereida Tambunan, Anggota Infokom DPP PDI Perjuangan, Arie Tjahjanto dan kader-kader PDI Perjuangan setempat.

“Hasil panen padi jenis biasa hanya 6,5 sampai 7 ton per hektar. Itu artinya jenis padi MSP berada diatasnya. Dan hal lain yang menjadi unggulan, usia padi MSP sejak mulai tanam sampai panen hanya 105 hari,” tuturnya.

Dijelaskan Damayanti, selama masa taman uji coba di Desa Pamengger, hanya dilakukan pemupukan sebanyak tiga kali, ditambah penyemprotan dengan pupuk organic cair MSP sebanyak 5 kali. Dengan begitu, tanaman padi MSP yang tumbuh setinggi sekitar 1,5 meter itu, berkembang dengan baik karena tahan terhadap hama dan tahan terhadap serangan tikus.

“Padi MSP yang disemprot dengan pupuk organic cair MSP, tidak mudah diserang tikus karena batang dan daunnya sangat keras. Selain hasil panennya lebih banyak dari padi jenis lainnya, biaya penggarapan yang dikeluarkan juga lebih rendah, sehingga sangat menguntungkan petani,” ujar Damayanti.

Sebelumnya Ketua Departemen Pertanian DPP PDI Perjuangan, DR Ir Lukman Hakim Sibuea menjelaskan, biaya produksi padi MSP rendah, namun hasil panen yang lebih tinggi dari padi jenis lainnya.

“Prrogram DPP PDI Perjuangan dengan menekan biaya produksi semurah mungkin, adalah untuk kesejahteraan petani,” ujar Lukman.

Dijelaskan, pupuk organic cair MSP harganya hanya Rp 30 ribu per liter, bisa digunakan untuk tanaman padi seluas satu hektar. Sementara obat-obatan lainnya harganya antara Rp 45 - 60 ribu per liter. Penggunaan pupuk organic cair MSP dari tanam sampai panen hanya dilakukan 5 sampai 6 kali. Selain itu, masa panen padi jenis MSP bisa lebih cepat 20 hari dari padi jenis lainnya.

“Kalau biasanya biaya produksi mencapai Rp 6 juta per hektar, tapi dengan menggunakan bibit padi dan pupuk MSP bisa ditekan hanya sekitar Rp 4 juta. Keuntungan lainnya, panen bisa lebih cepat dan hasilnya 1 hingga 2 ton diatas jenis padi lainnya,” tuturnya.

Sementara warga Desa Pamengger, Tanto yang dihubungi PanturaNews, mengatakan dengan berhasilnya uji coba padi MSP di desanya, banyak petani yang tertarik untuk menanam padi jenis MSP. Petani tertarik, karena pada kenyataanya hasil panen padi MSP sangat bagus, dan jika dihitung-hitung keuntunganya sangat banyak, serta pemeliharaanya tidak merepotkan pertain.

“Bahkan Kepala Desa Pamengger pada musim tanam ini, kembali akan menanam padi MSP di lahan seluas setengah hektar. Petani banyak yang berminat untuk mendapatkan bibit padi MSP,” katanya.