Selain Untuk Obat, Beras Hitam Punya Kandungan Gizi Tinggi
-Takwo Heriyanto & Zaenal Mutaqien
Kamis, 23/02/2012, 08:22:06 WIB

Slamet (tengah) memproduksi beras hitam yang berkhasiat untuk obat (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Beras hitam, bagi sebagian masyarakat Indonesia belum banyak yang mengenal. Padahal, beras hitam selain pulen, enak, juga mempunyai kandungan gizi yang tinggi dan bisa dijadikan obat.

Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, beras hitam ini bisa ditanam dan didapatkan di dataran tinggi (1000-1500 DPL). Salah satunya di Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog, lebih kurang 40 kilometer dari Kota Brebes.

Bagi warga Desa Kaligiri, beras hitam tidak asing lagi karena sejak bertahun-tahun yang silam beras ini sudah ditanam dan dikonsumsi warga setempat. Namun tidak ditanam secara besar-besaran, karena tidak laku dipasaran umum dan belum diketahui manfaatnya. Beras hitam saat itu hanya dijadikan campuran jagung bagi masyarakat yang mengkonsumsi jagung, karena bisa menambah rasa dan aroma.

”Kalau musim paceklik, orang-orang pada makan jagung, nah beras hitam inilah campurannya, jadi enak, lezat dan nikmat,” terang petani asal Desa Kaligiri, Slamet Yuwono (50) saat dikonfirmasi wartawan, Kamis 23 Februari 2012.

Slamet sendiri tidak tahu manfaat dari keunggulan beras hitam. Dia merasa tertantang untuk menanam dan mengembangkan beras hitam, setelah mendapatkan penyuluhan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Brebes. Dari disitulah dia mendapatkan ilmu, manfaat, kandungan gizi dan prospek pasar beras hitam. 

”Sejak tiga tahun yang lalu, saya menanam terus beras hitam,” kenang suami dari Suparti ini.

Menurut Slamet, warga Sirampog banyak yang tidak berminat menanam beras hitam karena masa panennya lama, meskipun cara penanaman dan ongkos produksinya sama. ”Kalau beras putih hanya berumur 100 hari, beras hitam sampai lima bulan baru bisa dipanen,” tuturnya.

Awalnya, ayah dari Panji Yuliansah (11) itu hanya menanam 1000 meter, meskipun sawahnya luas. Sekarang Slamet menanam beras hitam di lahan seluas 0,7 hektar. Untuk pemasaran, kebetulan dirinya punya teman-teman di luar kota yang mengetahui manfaat beras hitam, maka yang menjual temannya itu.

”Teman saya yang ada di Purwokerto, Tegal, Yogya dan Bogor ikut menjualnya dengan menamakan obat beras hitam,” ujarnya.

Entah karena apa, system pemasaran itu membuat harga beras hitam menjadi mahal. Slamet menjual Rp 15 ribu per kilogram, tapi dipasaran di kota bisa laku Rp 40 sampai Rp 50 ribu per kilogram.

Untuk memudahkan pengiriman, Slamet menjualnya dengan kemasan 1 kilogram dengan bungkus plastik. Setiap sebulan sekali mengirim lewat jasa paket kepada teman-temannya diluar kota. ”Sebulan sekali saya bisa mengirim 1 ton kepada teman-teman saya di berbagai daerah,” terang Slamet yang juga Ketua Unit Pengelola  Farmer Manage Activity (UP FMA) atau kegiatan penyuluhan yang dikelola petani sendiri.

Dengan dibungkus per 1 kilogram tidak mengesankan sebagai beras konsumsi, tetapi benar-benar beras untuk obat. Cara menanaknyapun tidak seluruhnya dengan beras hitam. Tetapi hanya dicampurkan saja. Dengan perbandingan, setiap 1 kilogram beras putih hanya dicampurkan 1 ons beras hitam atau 1:10 bisa juga 1: 8.

Slamet mendapat kunjungan istimewa dari Asisten II Setda Brebes, Ir Moh Iqbal MM di rumahnya Rabu 22 Februari 2012. Iqbal menyarankan agar Slamet tidak jemu-jemu mau mengajak teman-temannya menanam beras hitam. Dan untuk pengemasan, sebaiknya yang kedap udara dan penampilan yang menarik, sehingga bisa menambah nilai jual.

Sekretaris Badan Pelaksana Penyuluhan (Bapelluh) Kabupaten Brebes, Ir Hartono menjelaskan, beras hitam mengandung kasiat untuk mencegah gangguan fungsi ginjal, memperbaiki kerusakan pada hati, membersihkan kolesterol dalam darah dan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit.

Potensi beras hitam di Sirampog, kata Hartono, sedang dikembangkan di wilayah Sirampog. Semula hanya di Desa Kaligiri kini merambah ke desa-desa di sekitarnya. Tercatat, tanaman padi beras hitam di Desa Kaligiri seluas 4,5 hektar, Desa Manggis 3 hektar, Sridadi 3 hektar, Mendala 3 hektar, Mlayang 2 hektar dan Desa Benda 1 hektar.

”Mudah-mudahan dengan makin luasnya penanaman, bisa mencukupi permintaan konsumen yang makin tinggi,” pungkas Hartono.