Masyarakat Diminta Jaga Ketahanan Pangan Seoptimal Mungkin
TK-Takwo Heriyanto
Kamis, 16/02/2012, 10:07:34 WIB

Kepala KKP Kabupaten Brebes, Ir Iman Kridarso (kiri) saat dialog di acara Moci Bareng Karo Uwane (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Masyarakat diminta untuk menjaga dari ketahanan pangannya. Sebab pada hakekatnya, masyarakatlah yang paling utama sebagai objek dan subjek ketahanan pangan itu sendiri. Kita tidak bisa memaksa masyarakat untuk mengurangi makan nasi dengan mengganti konsumsi non beras.

”Meskipun sudah makan roti, jagung, ketela sampai kenyang, kalau belum makan nasi ya dikatakan belum makan,” kata Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Ir Iman Kridarso MSi saat dialog Moci Bareng Karo Uwane di Aula KKP, Kamis 16 Februari 2012.

Menurutnya, Kabupaten Brebes, yang memiliki luas wilayah kedua dan jumlah penduduk terpadat di Jawa Tengah, sangat berpotensi rawan pangan. Untuk itu, perlu dijaga  ketahanan pangan seoptimal mungkin agar tidak terjadi rawan pangan. Apalagi, pola konsumsi masyarakat berupa padi-padian terutama beras mendominasi. Sehingga terjadi ketimpangan konsumsi pangan.

Karena itu, kata Imam, masyarakat, diminta untuk menjaga diri ketahanan pangannya. Sebab, pada hakekatnya masyarakatlah yang paling utama sebagai objek dan subjek ketahanan pangan itu sendiri. Kita tidak bisa memaksa masyarakat untuk mengurangi makan nasi dengan mengganti konsumsi non beras.

Tapi yang penting bagi kita, lanjutnya, terjaminnya ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi seimbang hingga ketingkat rumah tangga (RT).

Lumbung Pangan, merupakan solusi handal untuk menjamin ketersediaan pangan. Lumbung itu sendiri tidak melulu untuk menyimpan gabah tetapi juga bahan pangan lainnya. Seperti jagung, ubi, kacang dan lain-lain. ”Tapi yang utama adalah untuk menyimpan gabah,” terangnya.

Di Kabupaten Brebes, hingga kini masih ada 78 lumbung pangan dari 297 desa dan kelurahan. Namun demikian hanya 58 lumbung yang aktif sedangkan 20 lumbung tidak aktif.

”Tahun ini kami akan menargetkan 10 lumbung agar aktif dan membangun 3 lumbung lagi,” paparnya.

Menurut Iman, menghidupkan kembali lumbung pangan, memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena perlu peran serta masyarakat yang sinergis dan terintegrasi.

”Pengurusnya harus aktif dan dinamis,” tuturnya. Hal lain yang perlu diperhatikan, masyarakat perlu membudayakan keanekaragaman konsumsi pangan. Tidak hanya beras yang jadi konsumsi andalan, tetapi konsumsi hewani, umbi-umbian, sayur dan buah perlu ditingkatkan.