Batik Salem, Potensi Unggulan yang Makin Digandrungi
TK-Takwo Heriyanto
Selasa, 07/02/2012, 06:08:06 WIB

Batik Salem yang dijajakan Eko dari kantor ke kantor selalu diburu pembeli (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Batik Salem yang merupakan potensi unggulan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, makin digandrungi peminat, baik warga Brebes maupun sekitarnya. Terbukti, dari hasil penjualan batik yang dijajakan secara keliling oleh Eko Sudarto, selalu ludes diborong pembeli.

Motif yang variatif dan bernuansa lokal batik Salem antara lain motif bebek boyong, ceplok daun brambang, ceplok gudang brambang, endog sigar ceplok brambang, irisan brambang sewu, ceplok brebes, sekar jagad brebes, bebek sajodo, ceplok manggaran, bebek sapangon, gudang brambang ukel, brambang sebedheng, parang brambang, seling manggaran dan lain-lain.

”Saya, mah biasa bawa 30 sampai 40 potong selalu habis,” ujar Eko Sudarto dengan logat Salem ketika menjajakan dagangannya di Bagian Humas dan Protokol Setda Brebes.

Eko menuturkan, dirinya berangkat dari Salem menggunakan angkutan umum. Tidak hanya ke Brebes, tetapi juga berkeliling ke Tegal, Slawi dan Pemalang. “Alhamdulillah, laris,” tuturnya.

Sekali berangkat, dia membawa 30 sampai 50 potong. Kain batik yang dijajakan merupakan hasil kreasi dari ibu mertuanya, Rusmini. ”Sebelum batik salem terkenal, sulit menjualnya, tetapi sekarang malah diburu rame-rame,” ceritanya, sambil mukanya melihat langit-langit, mengenang masa lalunya.

Kadang-kadang, Eko juga membawa batik dari tetangga-tetangganya bila stok dari mertuanya habis. Dirinya tidak khawatir kehabisan stok, karena di desanya, Bentarsari-Salem terdapat sekitar 140 hingga 200 perajin batik yang mayoritas para ibu rumah tangga.

Dia tanpa segan menceritakan nilai filosofi dari motif batik yang dijajakannya. Saat itu, ada 4 motif yang dibawanya yakni motif kembang kantil, galaran kembang kangkung, wijaya kusuma dan gagak setra.

”Sebenarnya, ada 23 motif batik Salem, tapi kita mah cuma bawa 4 macam,” ucapnya.

Eko mematok harga Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu perpotong. Dari hasil penjualannya berkeliling, Eko merasa berbangga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan yang lebih membanggakan, dia merasa Batik Salem telah melekat di hati masyarakat.

”Kapan lagi kita memakai baju hasil kreasi sendiri, kalau tidak sekarang?” kata Eko sembari promosi.