![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, hingga saat ini hanya bisa menangis. Pasalnya harga komoditas unggulan Brebes itu, selama 4 bulan sejak November 2011 hingga memasuki awal Februari 2012 tak kunjung naik.
Hancurnya harga bawang merah lokal di wilayah itu, selain dipicu membajirnya bawang merah impor yang masuk bebas di pasar-pasar tradisional, juga akibat cuaca buruk dan serangan hama sundep yang mengakibatkan bawang merah yang ditanam kering.
Padahal usia bawang merah belum saatnya untuk dipanen, kamun khawatir tanaman bawang merahnya itu akan gagal panen, maka petani terpaksa melakukan panen dini.
"Sebenarnya masa panen bawang merah ini jangka waktunya selama 60 hari. Namum, baru jangka waktu 40 hari terpaksa saya panen. Kalau nanti menungu 60 hari, saya takut akan gagal panen," ujar Wijan (50), salah seorang petani bawang merah asal Desa Padasugih, Kecamatan Brebes, saat dikonfirmasi PanturaNews, 01 Februari 2012 sore.
Dengan panen dini, menurut Wijan, dia mengalami kerugian yang cukup banyak. Dari tanaman bawang merah seluas satu bau saja, hanya menghasilkan panen kurang dari 3 ton. Padahal dalam kondisi normal untuk satu bau itu, biasanya menghasilkan panen bawang merah 10 ton.
"Sekarang ini hanya panen kurang dari 3 ton. Dijualpun harganya masih berkisar Rp 3000 sampai Rp 4000 per Kg. Belum ada kenaikan sama sekali sejak bulan November 2011 lalu," ungkap Wijan.
Padahal, kata Wijan, modal untuk menanam bawang merah seluas satu bau itu, menelan biaya sebesar Rp 45 juta. Akan tetapi, setelah dipanen hanya menghasilkan Rp 5 sampai 7 juta saja. Jelas, kerugiannyapun cukup banyak sekali.
Padahal, dalam menanam bawang merah seluas satu bau itu, Wijan mempekerjakan buruhnya sebanyak 35 orang dengan upah sebesar Rp 35 ribu per orang per hari.
"Kalau dihitung-hitung kan cukup banyak sekali kerugian petani bawang merah yang dialami saat ini. Pokoknya, para petani di desa ini hanya bisa menjerit dan menangis saja mas," keluhnya.
Wijan menambahkan, harga pupuk yang mahal juga menjadi bagian dari keluhan para petani bawang merah.
Terkait dengan aksi perwakilan para petani bawang merah asal beberapa desa di Kabupaten Brebes, yang melakukan aksi demo di Kementrian Pertanian (Kementan) di Jakarta, Rabu 01 Januari 2012 hari ini, Wijan bersama para petani bawang merah lainnya mendukung, agar pemerintah menolak secara tegas impor bawang merah se-Indonesia.
Para petani bawang merah juga mendukung, agar Kementan mengusut adanya indikasi dumping oleh negara India, hingga petani mengalami kerugian sekitar Rp 1,5 triliun. Selain itu, agar melakukan protes kepada World Trade Organization (WTO). Selanjutnya, WTO harus bisa memberikan sanksi kepada India.
Dukungan juga minta agar Menteri Pertanian, Ir H Suswono MMA untuk membubarkan Dewan Bawang Nasional, karena diduga hanya mencatut nama petani dan pedagang bawang Brebes.
Pasalnya, anggota organisasi itu sebenarnya bukan petani dan pedagang bawang Brebes, tetapi pedagang bawang besar dari Cirebon. Diharapkan para pendemo mendesak kepada Kementan, agar dibuat kebijakan perdagangan impor bawang merah yang bisa melindungi petani Indonesia.