HNSI dan PNKT Dukung Pembangunan Cold Storage
JAY-Riyanto Jayeng
Rabu, 25/01/2012, 07:22:47 WIB

Ilustrasi

PanturaNews (Tegal) - Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal dan Paguyuban Nelayan Kota Tegal (PNKT), menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan cold storage. Keberadaan cold storage dinilai sangat dibutuhkan nelayan, untuk menstabilkan harga ikan.

Demikian disampaikan Ketua HNSI Kota Tegal, Jawa Tengah, Mahmud Effendi, Rabu 25 Januari 2012.

"Dengan adanya cold storage, kami berharap harga ikan bisa stabil. Sehingga nelayan tak bisa dipermainkan dalam menjual ikan hasil tangkapannya. Dengan begitu kami yakin, tingkat kesejahteraan nelayan akan meningkat," kata Mahmud.

Menurut Mahmud, sebagai bentuk dukungan nyata, atas masuknya investor untuk membangun cold storage di kawasan PPP Tegalsari. Pihaknya sudah mendapat waktu, untuk beraudiensi dengan Walikota Tegal, H Ikmal Jaya SE Ak, Jumat 27 Januari 2012. Pihaknya bersama PNKT, dan elemen masyarakat nelayan akan memberikan dukungan, agar Pemkot mendukung masuknya investor untuk membangun cold storage di kawasan PPP Tegalsari.

"Selama ini kalau bahan baku ikan melimpah, karena tak ada competitor, harga ikan akan turun 40 sampai 50 persen. Namun kalau musim barat atau bahan baku ikan minim, kenaikannya tak seberapa. Hal ini tentu sangat merugikan nelayan, karenanya kami menilai perlu adanya kompetitor. Soal pembelian, harus tetap melalui lelang. Namun teknis pelaksanannaya, kami serahkan kepada Pemkot. Karena Pemkot memiliki aturan," tuturnya.

Hal senada disampaikan Ketua PNKT, H Eko. Menurut Eko, pihaknya sangat mendukung masuknya investor yang akan membangun cold storage di kawasan PPP Tegalsari. Dengan harapan adanya kompetisi harga ikan, saat nelayan menjual ikan hasil tangkapannya. Pihaknya menilai, alasan Asosisai Bakul Ikan Tegal (ABIT) menolaknya masuk investor tidak masuk akal, karena aktivitas bongkar muat ikan setiap harinya di TPI Pelabuhan kalau normal sekitar 100 sampai 300 ton, sedangkan cold storage investor hanya butuh 20 ton dalam setiap harinya. Sehingga setiap harinya ada sisa sekitar 80 ton lebih, dan itu cukup untuk para bakul ikan.

"Selama ini nelayan sangat dirugikan, karena dalam penjualan ikan tidak ada kompetitor. Sehingga harga ikan, hanya dikuasai para bakul. Kami sangat berharap adanya investor harga ikan tak akan jatuh, walaupun saat bahan baku ikan melimpah. Kalau itu terjadi nelayan akan diuntungkan, dan tentunya akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan nelayan," ungkap Eko.

Sementara itu, Nahkoda KM Karya Pertama, Barat, menyatakan karena tidak adanya kompetitor, harga ikan hasil tangkapannya tak bisa dijual maksimal. Sehingga hasil penjualan ikan, selama ini tak bisa menutup biaya perbekalan melaut.

"Kalau bawa ikan tangkapannya tidak banyak, kami terus terang rugi. Karena untuk perbekalan kami membutuhkan uang sekitar Rp160 juta sampai Rp 180 juta, sedangkan penjualan ikan hasil tangkapan kadang kurang. Kalaupun lebih, kelebihannya sedikit. Sehingga kami atas nama nahkoda kapal sangat mendukung masuknya investor, untuk membangun cold storage di kawasan PPP Tegalsari," papar Barat.