Debit Air yang Diambil Dari Tuk Suci Dipertanyakan
ZM-Zaenal Muttaqin
Jumat, 20/01/2012, 10:17:47 WIB

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Masyarakat masih mempertanyakan penghitungan debit air yang akan diambil dari Tuk Suci. Khususnya petani khawatir, pemanfaatan Tuk Suci untuk memasok kebutuhan air minum tiga daerah, yakni Kabupaten Brebes, Kota Tegal dan Kabukaten Tegal, Slawi (Bregas), akan berdampak pada kesulitan air irigasi untuk mengairi lahan pertanian di kawasan Brebes bagian selatan.

"Pengambilan air dari Tuk Suci akan berdampak sulitnya air untuk irigasi pertanian. Tuk Suci itu sumber dari Sungai Keruh yang selama ini menjadi salah satu tumpuan irigasi pertanian," kata Syamsul Ma'arif, salah satu perwakilan pemuda.

Kekhawatiran itu muncul saat digelar Sosialisasi Pemanfaatan mata air Tuk Suci untuk pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kawasan Regional Bregas yang digelar di Gedung KPRI Rukun Kecamatan Sirampog, Kabupaen Brebes, Jawa Tengah, Kamis 20 Januari 2012 sore. Sosialisasi diikuti ratusan perserta yang terdiri dari masyarakat dan petani dari Kecamatan Sirampog dan Tonjong.

Penghitungan jumlah debit Tuk Suci juga dipertanyakan, yang rencananya SPAM Bregas akan memanfaatkan sebanyak 260 liter per detik. Pemanfaatan sebesar itu berarti hampir menghabiskan debit yang ada di Tuk Suci tersebut.

"Saya minta coba dihitung dulu yang benar, berapa jumlah debit Tuk Suci yang sebenarnya," tegas Syamsul.

Menanggapi adanya kekawatiran itu, Kordinator Tim Sosialisasi Pemanfaatan Mata Air Tuk Suci untuk Pengembangan SPAM Kawasan Regional Bregas, Ir Purwandi mengatakan, keraguan masyarakat disebabkan karena ketidaktahuan pada penghitungan angka-angka debit per detiknya.

"Kami bisa memahami kekawatiran itu, karena belum tahu perhitungan yang sebenarnya," ujar Purwandi.

Di kawasan Tuk Suci yang ada di Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, telah dibangun Cipoleti atau pintu air. Di kawasan Tuk Suci yang juga meliputi Tuk Pandan setelah dibangun Cipoleti itu, kemudian dihitung dan hasilnya ditemukan 1.256 liter per detik. Rencana yang akan dimanfaatkan untuk SPAM Bregas sebanyak 260 liter per detik.

"Pemanfaatan hanya 260 liter per detik atau sekitar 30 persen," terang Purwandi yang juga mewakili Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Ciptakaru) Propinsi Jawa Tengah ini.

Persoalan kesulitan air irigasi yang terjadi selama ini, lebih disebabkan oleh kondisi saluran yang belum baik. Nantinya akan dilakukan perbaikan, sehingga masyarakat petani akan mendapatkan air untuk lahan pertaniannya lebih baik lagi. Begitu juga di kawasan hulu akan digalakkan penghijaun, dan masyarakat akan diberi kontribusi oleh pemerintah seperti yang telah direncanakan.

"Tidak perlu khawatir, karena tidak mungkin pemerintah itu membangun tapi untuk menyengsarakan masyarakat," tegas Purwandi.

Diungkapkan, selama ini masyarakat di Bregas hanya bisa terpenuhi kebutuhan airnya sebanyak 16 persen. Pembangunan SPAM Bregas ini untuk memenuhi kekurangan kebutuhan air itu.

"Pemanfaatan Tuk Suci satu-satu jalan, kalau harus mengolah air laut biayanya sangat tinggi dan itu tidak memungkinkan," tutur Purwandi.

Sosialisasi Pemanfaatan Mata Air Suci untuk Pengembangan SPAM Kawasan Regional Bregas itu, dihadiri oleh tim dari Propinsi Jawa Tengah yang terdiri dari unsur Dinas Ciptakaru, Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Perusahaan Daerah Air Bresih (PDAB), Dirut Perekonomian, Perhutani KPH Pekalongan Barat dan lainnya. Sementara tim dari Pemkab Brebes terdiri dari Setda, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral dan lainnya. Pada malam harinya sosialisasi juga digelar di Gedung MWC NU Bantarkawung, yang mengundang masyarakat dan petani di Kecamatan Bantarkawung.