![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Sebagian penduduk Kota Tegal, Jawa Tengah, yang bermukim di wilayah dataran dengan tingkat elevasi rendah, merasa was-was disepanjang musim penghujan tahun ini.
Pasalnya, intensitas curah hujan yang turun hampir setiap hari tak mengenal waktu itu, setiap saat dapat mengundang banjir. Hal itu dikarenakan, kondisi dataran yang rendah serta diperparah dengan selokan air yang tidak berfungsi maksimal.
Demikian dikatakan anggota Komisi III DPRD Kota Tegal, Rofii Ali S.Si, Senin 16 Januari 2012.
Menurut Rofii, buruknya system drainase dan lemahnya koordinasi antar stake holder yang menangani masalah tersebut menjadi salah satu penyebab terciptanya hujan menjadi banjir atau genangan air yang cukup lama dan cenderung makin tinggi dari tahun ke tahun.
“Dari hasil tinjauan dilapangan dan aduan dari masyarakat, titik-titik banjir dipemukiman masyarakat bukannya berkurang malah bertambah. Beberapa titik titik banjir dipemukiman Jalan.Semarang RT 03 dan RT 04 RW 5, Kelurahan Debong Tengah, serta Jalan Sriti dan Jalan.Merpati Gg.Kuntul, Kelurahan Randugunting. Untuk kasus di jalan Semarang RT 03, RT 04 RW 5, banjir bertambah parah setelah dibuatkan selokan dimana dasar selokan lebih rendah dari sungai sehingga ketika sungai banjir air akan meluap ke selokan dan menggenangi pemukiman di sekitar Jalan.Semarang,” kata Rofii.
Lebih jauh Rofii mengatakan, Berangkat dari kasus selokan Jalan.Semarang , dapat disimpulkan tidak adanya koordinasi antara lembaga BKM, Kelurahan dan DPU. Sehingga sama sekali tidak ada sinkronisasi kegiatan.
Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Tegal, Ir Gito Mursriyono mengatakan, kecenderungan genangan air maupun banjir local di beberapa wilayah Kota Tegal sepanjang musim penghujan bukan mtlak disebabkan oleh system drainase maupun selokan yang tidak berfungsi. Sebab, menurut Gito, system drainase perkotaan yang direncanakan bertahap jangka panjang, tidak dibuat sembarangan atau serampangan.
“Begitupun dengan selokan atau saluran pembuangan air di sekitar pemukiman, selama ini DPU selalu melakkan perbaikan system saluran, baik secara teknis maupun non teknis. Berbicara tingkat kemiringan tanah di wilayah Kota Tegal, hampir semuanya sama, berada di titik terendah, yaitu 0,5-1 meter di bawah permukaan laut (dpl),” kata Gito.
Gito menjelaskan, faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya genangan maupun banjir lolal di suatu pemukiman, adalah karena tingkat daya resap tanah di kawasan itu sudah tidak maksimal. Perlu diketahui, semakin banyaknya permukaan tanah ini tertutup oleh pemukiman maupun bangunan lain, maka tingkat daya resapnya terhadap air hujan yang datang mendadak, cukup lama atau hampir tidak mampu sama sekali.
“Karena sulit meresap, maka timbul genangan dan banjir lokal. Terhadap usulan maupun masukan masyarakat terkait area banjir seperti yang disampaikan anggota DPRD, akan secepatnya kami cek untuk ditangani,” tandas Gito.