Paska Banjir, Tiga Menteri Didesak Turun Tangan
SLTK-SL Gaharu & Takwo Heriyanto
Selasa, 03/01/2012, 08:05:30 WIB

Salah satu sekolah yang terendam banjir dan meliburkan siswanya karena hingga kini air belum surut. (Foto: Dok/Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Jakarta) - Bencana banjir di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah, harusnya menyadarkan bahwa peran pemerintah dalam membangun sarana dan prasana masyarakat umum amat memprihatinkan. Dengan mudahnya sarana-sarana umum hancur akibat hujan lebat. Kualitas pembangunan harus di pertanyakan.

Melihat kondisi hancurnya sarana umum yang diakibatkan banjir, Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kab. Tegal, Kab. Brebes), Dr (cand) Dewi Aryani, M.Si, mendesak pemerintah melalui Kementrian Pekerjaan Umum (PU), Kementrian Pendidikan dan Kementrian Pertanian untuk turun tangan mengatasi kerusakan paska banjir. Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan juga sudah diterjunkan di posko banjir Kabupaten Brebes.

“Untuk saat ini krisis pangan, obat-obatan dan sandang kami atasi bersama bergotong-royong dengan seluruh elemen masyarakat. Bahkan DPD PDIP dan DPC PDIP dengan dukungan DPP serta Anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah IX membuka posko bencana di sejumlah titik rawan. DPP juga turun tangan dengan menerjunkan dokter-dokter dan bantuan pengobatan serta sarana kesehatan," ujar Dewi, politisi PDI Perjuangan kepada PanturaNews, Selasa 03 Januari 2012 pukul 07.00 WIB.

Menurut Dewi, pemerintah harus mulai memikirkan perbaikan dan rehabilitasi prasarana dan sarana di wilayah-wilayah yang terkena bencana sangat parah. Rumah rakyat, bahkan sekolah-sekolah yang terendam banjir.

Di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, puluhan sekolah selama tiga hari terendam banjir. Akibat air yang masuk ke seluruh ruang kelas, membuat pihak sekolah terpaksa meliburkan siswa untuk belajar di rumah.

Padahal, Senin 02 Januari 2012 kemarin adalah hari pertama para siswa masuk sekolah. Namun karena seluruh ruang kelas tergenang, dikhawatirkan akan menganggu proses belajar mengajar jika siswa dipaksakan untuk masuk.

Lebih jauh dikatakan Dewi, banjir yang melanda Kabupaten Brebes terjadi akibat meluapnya Sungai Ciapit, Sungai Kabuyutan dan Sungai Babakan sejak Jumat 30 Desember 2011. Ribuan rumah warga dan fasilitas umum terendam banjir dengan ketinggian 1 hingga 1,5 meter. Termasuk ribuan hektar persawahan mengalami gagal panen, jalan-jalan desa dan kecamatan serta jalur pantura rusak karena teremdam banjir.

“Sekolah-sekolah juga praktis sama sekali tidak dapat digunakan karena fasilitasnya hancur semua. Mentri PU, Mentri Pertanian harus turun tangan. Harus ada pengadaan bibit dan pupuk untuk pemulihan lahan-lahan pertanian yang hancur. Harus ada program perbaikan tanggul-tanggul dan jalan-jalan yang hancur akibat bencana. Pemulihan harus dilaksanakan segera, agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti," tutur Dewi yang prihatin dengan lambatnya penanganan pemerintah dalam mengatasi bencana.

Sebagai langkah awal, Dewi Aryani bersama Tim PDIP, mulai mengalirkan bantuan berupa ratusan bok mie instan, beras, dan obat-obatan. Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) juga sudah turun ke lokasi posko, mengadakan pengobatan gratis di lokasi banjir. Bantuan akan terus mengalir sampai situasi membaik.

“Kepada masyarakat dan pelaku usaha untuk ikut bergotong-royong memberikan bantuan. Kepada perusahaan pupuk akan sangat diapresiasi jika bisa membantu sumbangan pupuk paska banjir untuk pemulihan lahan pertanian,” tambah Dewi.

Diberitakan sebelumnya, ribuan rumah warga di lima kecamatan, yakni Kecamatan Brebes, Tanjung, Losari, Kersana dan Banjarjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terendam banjir dengan ketinggian 1 hingga 1,5 meter, Sabtu 31 Desember 2011.

Banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Ciapit, Kabuyutan dan Sungai Babakan yang diguyur hujan terus-menerus sejak Jumat 30 Desember 2011. Meski begitu, belum ada laporan korban jiwa akibat banjir ini.

Banjir juga menyebabkan fasilitas umum ikut tergenang seperti terminal, Puskesmas, UPTD Dinas Pendidikan, sejumlah SD, SMP, SMA, Kantor Desa, Mushola, empat Pemakaman Umum (TPU) dan fasilitas umum lainnya. Bahkan arus lalu lintas di sepanjang jalur pantura Tanjung, terhambat karena jalan tergenang air.