![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Komisi I DPRD Kota Tegal, mengaku prihatin dengan kekisruhan yang terjadi seputar pemberian penghargaan seniman tahun 2011. Seharusnya penghargaan diberikan atas kerja keras dan karyannya, yang dinilai masyarakat atau tim penilai layak. Bukan atas dasar diminta, apalagi dengan ancaman. Hal ini tidak etis, dan justru menunjukan ketidak legowoan seniman Kota Tegal.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Tegal, Jawa Tengah, H A Satori SE, Sabtu 24 Desember 2011.
Satori mengatakan, sebagai anggota DPRD, apalagi komisi yang membidangi masalah kesenian pihaknya sangat menyangkan kekisruhan pemberian penghargaan seniman tahun 2011. Karena ini jadi preseden buruk, sekaligus menandaakan tidak ada rasa legowo seniman saat ada temannya yang mendapat penghargaan.
Seharusnya mereka bangga, karena temannya bisa memdapat penghargaan dari Pemkot. Bukan malah protes, dan meminta dirinya memdapat penghargaan. Itu menandakan, seniman Kota Tegal tak ikhlas dalam berkarya dan hanya ingin dipuji dan mendapatkan penghargaan berupa materi.
"Karena kejadian ini, kami akan meninjau ulang adanya anggaran penghargaan untuk seniman, baik pada tahun ini (2011-red) maupun tahun-tahun kedepan. Kalau ingin mendapat penghargaan, maka kami minta seniman atau Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) menata diri. Apalagi yang protes, ternyata para seniman yang secara struktur masuk dalam kepengurusan DKT," kata Satori.
Ditegaskan Satori, secara prinsip pihaknya sangat mengerti sikap tim verfikasi penghargaan seniman Kota Tegal, karena merasa dilecehkan, Maka wajar kalau mereka lebih baik memilih mengundurkan diri dan mengembalikan semua fasilitas, utamanya honor sebesar Rp 200 ribu untuk setiap anggota tim verfikasi.
Seharusnya Walikota bersikap tegas, karena telah memberikan mandat penuh kepada tim verfikasi. Sehingga kalaupun ada yang protes, dipersilahkan protes kepada tim verfikasi. Bukan malah mengakomodir atas protes para seniman, dengan memberikan penghargaan kepada tiga 'seniman' sebagai penggiat seni kepada H Tambari Gustam, Lanang Setiawan dan Dwi Ery Santoso.
"Seharusnya kalau ada kebijakan lain, diluar keputusan tim verifikasi yang telah final memutuskan 6 seniman mendapat penghargaan tahun 2011. Bahkan hasilnya sebelumnya telah dipaparkan kepada Walikota, DKT dan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Diporabudpar). Walikota memanggil kembali tim verfikasi, dan meminta pertimbangan tim soal adanya rencana penambahan penghargaan. Bukan mengambil kebijakan sendiri, dan mengabaikan kerja tim. Siapapun timnya, kami yakin akan merasa dilecehkan," tegas Satori.