![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Jumlah peredaran uang palsu (upal) di wilayah pengawasan Kantor Bank Indonesia cabang Tegal, Jawa Tengah, sepanjang tahun 2011 ditengarai mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Demikian disampaikan Kepala Kantor Bank Indonesia cabang Tegal, Yoni Depari, saat gelar diskusi dengan sejumlah wartawan di Baturaden, Purwokerto, 17 Desember 2011 lalu.
Menurutnya, Kantor Bank Indonesia cabang Tegal menemukan adanya peningkatakan jumlah upal yang beredar di wilayah kerjanya. Pada tahun 2010, jumlah uang palsu yang ditemukan 769 lembar dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 1.894 lembar.
Lebih jauh dikatakan, jumlah upal itu ditemukan di wilayah kerja pengawasan Kantor Bank Indonesia Tegal yang meliputi 7 kabupaten dan kota se-eks Karisidenan Pekalongan.
“Pecahan uang yang sering ditemukan palsu adalah pecahan uang 50 ribu rupiah emisi tahun 2005, pecahan uang 100 ribu rupiah emisi tahun 2004. Khusunya untuk pecahan 100 ribu rupiah jumlahnya paling banyak, mencapai 915 lembar,” kata Yoni.
Yoni mengakui, upal yang ditemukan Bank Indonesia mengalami peningkatan lebih dari 100 persen. Hal ini patut diwaspadai karena uang palsu sangat merugikan masyarakat. Oleh karenanya, Bank Indonesia secara berkala melakukan penggantian gambar pada uang, dan menambah fasilitas pengaman tertentu pada cetak pecahan uang dengan nominal besar.
“Bank Indonesia juga secara kontinyu menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah, untuk memberikan sosialisasi mengenai perbedaan uang palsu dengan uang asli,” ujarnya.
Yoni menambahkan, walaupun ada peningkatan jumlah temuan uang palsu, namun perputaran uang kertas di Bank Indonesia cabang Tegal mengalami peningkatan. Berdasarkan data bulan November 2011, jumlah uang masuk sebesar Rp 298 milyar dan jumlah uang yang keluar mencapai Rp 72,1 milyar.