![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Diserbu bawang merah impor, harga bawang merah lokal di tingkat petani anjlok. Para petani di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menuding Pemerintah Daerah maupun Pusat tidak serius dalam menangani persoalan bawang merah impor yang terus membanjir. Adanya bawang impor selalu merusak harga pasaran lokal. Akibatnya, para petani mengeluh karena kerugian yang dialaminya cukup besar.
Rokhman (38), petani bawang asal Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, merasa sedih, karena disaat sedang musim panen terlebih sangat mengharapkan adanya kenaikan harga bawang merah, justru harganya hancur akibat serbuan bawang merah impor. Bagaimana tidak, disaat normal harga bawang merah impor lebih murah dengan selisih Rp 1000 hingga Rp 2000.
"Pasaran memang lesu sekarang, malah lebih dari lesu. Soalnya biaya produksi, pupuk, obat-obataan, dan semuanya tinggi. Panen menjadi tidak sesuai harapan, karena keuntungannya tidak tinggi, ketika panen harga malah murah,” keluh Rokhman.
Saat ini, harga bawang merah lokal hanya berkisar antara Rp 2.500-Rp 3.000 per kilogram. Harga itu berada di bawah titik impas, Rp 5.000 per kilogram. Sedihnya lagi para tengkulak juga tidak mau membeli dengan harga yang sudah turun drastis itu, karena tidak ada keuntungannya," tuturnya.
Menurutnya, biasanya kalau petani bawang merah Brebes sedang panen, bawang impor malah masuk. Pemerintah seharusnya bisa menangani sekaligus menertibkan bawang merah impor ke wilayah Kabupaten Brebes.
Ismail, petani bawang merah lainnya mengatakan, kunjungan Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono MMA ke wilayah Kabupaten Brebes pada Minggu 04 Desember 2011 lalu, dengan memborong bawang merah sekitar tiga ton, tidak membuat para petani bawang merah merasa lega.
"Itu hanya untuk menyenangkan para petani bawang merah sesaat saja," ujarnya.
Yang diharapkan para petani bawang merah di Kabupaten Brebes, lanjut Ismail, adalah agar pemerintah bisa mengambil langkah kongkrit atas persoalan yang dihadapi para petani tersebut. Disisi lain para petani juga mengharapkan agar pemerintah segera menertibkan bawang impor disaat para petani bawang merah di Kabupaten Brebes sedang musim panen raya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Brebes, Herman Adhy HW, SH melalui Kabid Perdagangan, Darmadi SH mengatakan, pihaknya tidak bisa ikut campur dalam penentuan harga bawang merah dipasaran. "Kalau masalah adanya bawang merah impor agar bisa ditertibkan, adalah urusannya pemerintah pusat," tandasnya.
Namun demikian, agar petani bawang merah di Kabupaten Brebes tidak selalu mengalami kerugian terus menerus akibat serbuan bawang merah impor, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes seharusnya bisa membuat resi gudang.
Manfaat dari resi gudang itu sendiri adalah salah satu solusi agar petani tidak terpuruk atau mengalami kerugian besar akibat harga hasil panen anjlok, sehingga petani jangan memaksakan diri atau terburu-buru menjual hasil panen ke pedagang.
Disatu sisi, resi yang dikeluarkan gudang penyimpanan bawang merah, juga dapat digunakan para petani sebagai agunan untuk mengajukan pinjaman kredit ke perbankan. Apalagi, saat ini, petani membutuhkan modal akibat harga hasil panen anjlok.