Abdul Karding: Jihad Jangan Dipahami Terlalu Ekstrim
JAY-Riyanto Jayeng
Rabu, 23/11/2011, 17:35:28 WIB

Abdul Kadir Karding

PanturaNews (Tegal) - Kordinator Daerah Jawa Tengah Kirab Resolusi Jihad, Abdul Kadir Karding, menegaskan sangat diperlukan pelurusan makna kata jihad. Sebab selama ini kata jihad dipahami oleh orang-orang tertentu terlalu ekstrim, sehingga dipakai untuk membunuh orang lain.

“Jihad bagi kami adalah berupaya secara serius menjaga dan membangun bangsa ini demi keutuhan umat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Karding disela-sela tausiyah resolusi jihad di Alun-alun Kota Tegal, Selasa 22 November 2011, pukul 23.00 WIB.

Karding yang juga Ketua Komisi VIII DPR RI sekaligus Ketua DPW PKB Jateng juga mengatakan, kirab resolusi jihad yang dilakukan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) merupakan napak tilas perjuangan. Sebab tidak dipungkiri, bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang dikomandoni oleh Bung Tomo di Surabaya beberapa tahun setelah proklamasi kemerdekaan tidak lepas dari perjuangan yang berdarah-darah para ulama khususnya ulama NU.

“Kami ingin semangat resolusi jihad ini menjadi bagian terpenting dari seluruh generasi muda sekarang di dalam mengisi pembangunan. Kami juga ingin adanya tekad kebersamaan untuk melindungi ancaman yang merongrong kewibawaan NKRI, NKRI itu harga mati,” ujarnya.

Menurut Karding, agar resolusi jihad yang diprakarsai oleh para ulama tersebut masuk dalam kurikulum pendidikan dan disosialisasikan ke seluruh peserta didik di sekolah-sekolah. Resolusi Jihad merupakan pemberitahuan kepada masyarakat bahwa peran para Kyai dan ulama dalam perjuangan kemerdekaan 1945 sangat penting.

Namun, rupanya perjuangan para kiai, santri dan ulama tersebut kurang mendapat perhatian. Terbukti, sampai saat ini belum dimasukkan dalam sejarah. Untuk itu, pihaknya meminta supaya Resolusi Jihad dimasukkan dalam kurikulum pelajaran.

“Pemerintah harus jujur dan adil dalam meluruskan  sejarah, jangan diputar balikan. Keberadaan resolusi jihad ini merupakan titik awal dari kebangkitan generasi bangsa yang meletupkan perlawanan terhadap kaum penjajah yang hendak kembali mencengkeram NKRI, tentang resolusi jihad ini harus masuk kurikulum,” ungkapnya.

Lebih jauh Karding mengatakan, kirab Resolusi Jihad berangkat dari Surabaya, Jawa Timur sejak 20 November kemarin dan rencananya berakir di Tugu Proklamasi, Jakarta pada tanggal 25 November mendatang. Dalam perjalanan yang melintasi 22 Kabupaten/ Kota, Tigabelas di antaranya, kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah, kirab resolusi jihad mendapat sambutan meriah tidak hanya dari kalangan masyarakat NU, namun masyarakat penganut agama lain pun ikut serta dalam penyambutan.

“Tahun ini adalah yang pertama. Untuk selanjutnya setiap tahun kami tetap akan melangsungkan agenda serupa dan kemungkinan tidak hanya melalui jalur pantura,” jelasnya.

Sementara, Kordinator Nasional Kirab Resolusi Jihad, Imam Nachrawi mengatakan, kirab resolusi jihad tersebut didukung Jam'iyah Ahli Thariqat Mu'tabarah An-Nahdliyah, PP Fatayat NU, PP Saburmusi, PP IPNI, PP IPPNU, LPSNU Pagar Nusa dari Surabaya ke Jakarta, yang menempuh perjalanan selama lima hari, melintasi daerah kabupaten dan kota mulai dari, Surabaya-Gesik-Lamongan-Tuban-Rembang-Pati-Kudus-Demak-Semarang-Kendal-Batang-Pekalongan-Pemalang-Tegal-Brebes-Cirebon-Indramayu-Subang-Karawang-Bekasi-Jakarta Timur-Tugu Proklamasi-Kantor PBNU di Jakarta Pusat dan akan diserahkan kepada Presiden RI

"Resolusi Jihad NU semangatnya tetap menjaga keutuhan Kebhinekaan dan NKRI, maka di setiap kota yang disinggahi selalu memampilkan kearifan lokal yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia, jadi bukan jihad yang hanya dimaknai sempit oleh kelompok kecil masyarakat selama ini," tandas Imam.