Membumikan Spiritualisme Mental Sehat
--None--
Kamis, 27/10/2011, 22:24:48 WIB

H. Lukman Nur Hakim

Munculnya beberapa Majlis Sholawat dan Dzikir yang marak di wilayah Tegal, Brebes merupakan bentuk gerakan yang nyata di tengah masyarakat untuk meraih pribadi yang sehat. Fenomena kegiatan spiritual ini menandakan, bahwa pada diri manusia memiliki keinginan untuk memperoleh kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan baik di dunia maupun kehidupan akherat kelak.

Keberadaan Majlis Sholawat dan Dzikir di setiap tempat begitu semaraknya, dipenuhi para jamaah dari berbagai penjuru untuk meraih kedekatan kepada Tuhan. Mereka bersama-sama mengadukan masalah yang menghimpitnya dan memohon pertolongan  akan kehidupan yang dijalaninya, melebur untuk menemukan kenikmatan bercengkarama dengan Sang Khaliq demi meraih ketenangan batiniah.

Gerakan mental yang berorientasi pada dimensi spiritual ini merupakan upaya untuk membimbing manusia pada kehidupan rohaniah untuk menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Gerakan ini juga memiliki dimensi sosial, membantu manusia memecahkan masalah kehidupan agar dapat mencapai kebahagiaan semasa  hidupnya. Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai mensyukuri ni'mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut manusia seutuhnya   

Beberapa gerakan mental yang muncul belakangan ini, tidak hanya dimiliki oleh masyarakat pedesaan semata, tetapi juga ada yang dinahkodai oleh para pensiunan dalam rangka mengisi hari tua untuk lebih dekat dengan sang pencipta, para pemilik warung di luar kota (warteg) yang pulang kampung hanya untuk ikut dzikir dan sholawat, para PNS yang ingin meraih keselamatan dunia akherat dan para pengusaha yang ada di perumahan elit dalam rangka berbagi dan mengabdi pada Ilahi. Fenomena ini muncul sebagai suatu bentuk penangkalan akan proses globalisasi yang membawa dampak negatif memunculkan ketidaktenangan batin.

Majlis ini dapat dikatakan sebagai upaya mewujudkan manusia yang mampu mengenali sisi kemanusiaannya sendiri (ma’rifatun Nafs) sehingga dapat menjalin hubungan baik dengan sesama manusia dan mengabdi kepada Allah SWT (ma’rifatullah) dengan keyakinan dan keteguhan iman kepada-Nya. Kebutuhan manusia akan kedekatan kepada Tuhannya dapat terjawab dalam forum ini.

Berbagai pengakuan dari para pengikut majlis menyatakan bahwa mereka merasakan kesejukan, kenyamanan dan ketenangan ketika bersholawat dan berdzikir, bagaikan tanah tandus yang tersiram air hujan, rasa haus dan lapar akan hilang berganti dengan kesejukan dan kebahagiaan. Pemenuhan kebutuhan ruhani dirasakan sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.

 Berdasar hasil beberapa penelitian menyebutkan bahwa lebih 40 persen orang yang mengalami kegelisahan jiwa lebih suka pergi meminta bantuan kepada agamawan.   Klien yang agamis memandang negatif terhadap konselor yang bersikap sekuler, seringkali mereka menolak dan bahkan menghentikan terapi secara dini. Artinya pendekatan agama lebih mengena dan dapat diterima oleh para klien dibandingkan rasionalitas yang mengesampingkan nilai-nilai ketuhanan.

Belajar dari penelitian tersebut, nilai-nilai agama yang dianut klien merupakan satu hal yang perlu dipertimbangkan konselor dalam memberikan layanan konseling, sebab bagi klien yang fanatik dengan ajaran agamanya, sangat dimungkinkan bahwa mereka memiliki  keyakinan pemecahan masalah pribadinya dapat dilakukan melalui nilai-nilai ajaran agamanya. Seperti dikemukakan oleh Bishop  bahwa nilai-nilai agama (religius values) penting untuk dipertimbangkan oleh konselor dalam proses konseling, agar proses konseling terlaksana secara efektif.

Berkembangnya kecenderungan sebagian masyarakat dalam mengatasi permasalahan kejiwaan mereka untuk meminta bantuan kepada para agamawan sudah menjadi fenomena umum. Hal ini dapat kita amati di masyarakat, banyak sekali orang-orang yang datang ke tempat para kiai bukan untuk menanyakan masalah hukum agama, tetapi justru mengadukan permasalahan kehidupan pribadinya untuk meminta bantuan/ jalan keluar baik berupa nasehat, saran, meminta doa-doa dan didoakan untuk permasalahan yang sedang dihadapi, kesembuhan penyakit, keselamatan maupun sekedar untuk mencari ketenangan jiwa.          

Mengacu pada realitas yang demikian, maka gerakan tersebut seyogyanya dapat diterima dan dikembangkan dalam dunia pendidikan, kesehatan, serta terealisasikan dalam pembinaan mental aparatur negara baik sipil maupun militer sehingga mereka memiliki mental  sehat.

(H. Lukman Nur Hakim, S.Psi., S.Pd,. M.Pd adalah Pengurus Majlis Al-Khusaini Brebes dan Dosen Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, tinggal di Randusanga - Kabupaten Brebes)