![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Ribuan warga Dukuh Wadasgumantung, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Brebes, Jawa Tengah terancam terisolir. Pasalnya, jembatan gantung sepanjang 80 meter yang melintang di atas Sungai Pedes dan menjadi satu-satunya penghubung ke dukuh tersebut nyaris putus.
"Kondisi jembatan sudah sangat mengkhawatirkan, miring dan tiang penyangga darurat sudah mulai lepas," kata Camat Tonjong, Drs Hudiyono MSi saat meninjau ke lokasi jembatan, Jumat 21 Oktober 2011 siang.
Menurutnya, bila terjadi turun hujan yang mengakibat arus air sungai deras dipastikan tiang penyangga jembatan akan ambrol dan jembatan akan putus. Jika itu terjadi warga di Dukuh Wadasgumantung yang jumlahnya 200 Kepala Keluarga (KK) atau 1000 jiwa lebih akan terisolir, karena tidak ada lagi akses jalan lain. "Kalau sekali saja hujan deras ini bisa langsung ambrol pondasinya," ujar Hudiyono.
Dikatakan, pihaknya telah melapor ke Pemkab Brebes untuk segera melakukan penanganan. Pihaknya juga akan mengundang warga yang melakukan aktivitas penambangan Galian C di sekitar jembatan untuk memberikan sosialisasi pelestarian lingkungan. "Di sini banyak penambang, rencana kami akan kumpulkan mereka untuk sosialisasi tentang kelestarian lingkungan," ucap Hudiyono.
Sementara itu, Kadus II Desa Kutamendala, Waryono mengatakan, Jembatan Wadas Gumantung terakhir dibangun tahun 2005 dengan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Pada tahun 2009 jembatan putus karena diterjang banjir arus sungai dan diperbaiki dengan dana bencana alam pada tahun 2010 lalu. Pada awal tahun 2011 lalu kembali rusak tiang penyangganya bergeser. "Kemudian dilakukan pemasangan tiang penyangga dari kayu glugu," katanya.
Dikatakan, di Dukuh Wadasgumantung terdapat SD Kutamendala 5 yang semua gurunya dari luar. Jika jembatan putus aktivitas belajar SD itu akan terganggu. "Siswa-siswa SMP dan SMA juga akan mengalami kesulitan untuk menuju tempat sekolah yang ada di luar dukuhnya," ungkap Wartono.