Tingkatkan IPM, 2012 Semua Desa Ditarget Miliki Perpustakaan
TK-Takwo Heriyanto
Selasa, 19/07/2011, 06:23:00 WIB

Ilustrasi

PanturaNews (Brebes) - Kepala Kantor Arsip Dan Perpustkaan Daerah Kabupten Brebes, Jawa Tengah, Hudiono mengatakan saat ini baru terdapat 51 persen atau 149 perpustakaan di desa, dari total jumlah desa se Kabupaten Brebes yang mencapai 292 desa.

Dari jumlah tersebut, kantor arsip dan perpustakaan daerah telah memberikan bantuan di setiap perpustakaan masing-masing antara 500 hingga 1500 buku.

"Karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan dan minat baca masyarakat Brebes, yang selama ini dikenal dengan Indek Pembangunan Manusia (IPM) terendah se-Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat mentargetkan pada akhir tahun 2012 semua desa yang ada di wilayahnya tersedia perpustakaan," ujar Hudiono, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 19 Juli 2011.

Menurutnya, program ini juga untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat hingga tingkat pelosok. Berdasarkan evaluasi yang ia lakukan, saat ini masih terhambat oleh anggaran untuk merealisasikan adanya perpustakaan di tingkat desa, bahkan tahun 2011 ini baru mampu menambah perpustkaan di tingkat desa sebanyak 28 unit. "Keberadaannya menempati kantor balai desa, memanfaatkan ruangan atau gedung kosong," ungkap Hudiono.

Keberadaan perpustakaan ini juga melibatkan pemuda dan pemudi desa setempat untuk mengelola secara sukarela. Hal ini terkait dengan upaya membangun kesadaran bagi masyarakat desa untuk meningkatkan minat baca. "Kami hanya mendapat alokasi anggaran Rp 950 juta, dana itu habis untuk membeli buku tak bisa untuk honor pengelola," terangnya.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Brebes, Ahmad Zazuli, meminta agar kantor arsip dan perpustakaan Kabupaten Brebes membuat formulasi untuk meningkatkan minat baca masayarakat lewat perpustakaan di desa.

Langkah ini bisa dilakukan dengan cara menjalin kerja sama dengan dinas pendidikan untuk meningkatkan minat baca generasi muda di daerah. "Ini sangat penting untuk membangun kesadaran belajar diluar sekolah secara formal," ujar Zazuli.

Berdasarkan pantuan yang ia lakukan baru terdapat dua perpustakaan di tingkat desa yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, itu pun justru banyak dibaca oleh generasi tua dibanding pelajar di desa. "Contohnya perpustakaan Desa Karangjengking dan Bumiayu yang justru koleksinya banyak dibaca oleh tukang becak dan pedagang buah," terangnya.

Kondisi ini dinilai sangat baik, namun lebih berguna lagi kalau dimanfaatkan oleh pelajar desa yang selama ini sulit mengakses informasi media nasional berupa koleksi koran dan majalah yang ada di perpustakaan.