Produksi Minim, Permintaan Rumput Laut Sangat Tinggi
TK-Takwo Heriyanto
Minggu, 26/06/2011, 10:36:00 WIB

Para petani menaikkan rumput laut yang baru dipanen ke penjemuran. (Foto: Takwo Heriyanto)

PanturaNews (Brebes) - Akibat permintaan yang sangat tinggi, produksi rumput laut di Brebes, Jawa Tengah, rupanya belum mampu memenuhi permintaan pasar yang mencapai 1.700 ton rumput laut kering per bulannya. Sementara hasil produksi di pesisir pantura Brebes hanya mampu 200 ton per bulan.

''Produksi rumput laut di wilayah pesisir pantai Brebes dengan luas tambak 1.100 hektar sejak tahun 2004 terus mengalami peningkatan, pada tahun 2009 total produksi 4.830 ton rumput laut basah, sementara pada tahun 2010 naik menjadi 8.134 ton,'' kata Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Da'an Susanto, Minggu 26 Juni 2011.

Menurutnya, memang selama ini petani tidak mengalami kesulitan untuk pemasaran, karena sudah ada lima distributor yang mengirim hasil produksi rumput laut ke beberapa perusahaan di Jawa Timur dan Jakarta. Namun demikian, yang menjadi kendala utamanya yakni pengembang rumput laut adalah minimnya infrastruktur, seperti tanggul atau saluran tambak yang rusak, sehingga menghambat proses pengiriman hasil panen karena para petani terpaksa mengangkut rumput laut basah secara manual dari lokasi panen.

''Sedangkan untuk meningkatkan produksi, pemerintah setempat akan menetapkan kawasan minapolitan, khususnya Desa Randusanga Kulon sebagai pusat penghasil rumput laut di Brebes, serta akan membentuk sarana pendukung lainnya agar produksi rumput laut semakin meningkat dan mampu memenuhi permintaan pasar,'' jelasnya.

Sementara Kepala Desa Randusanga Kulon, Ahmad Zaeni menambahkan bahwa kendala utamanya akan proses rumput laut diantaranya minimnya infrastruktur, seperti tanggul atau saluran tambak yang rusak, memang sudah lama terjadi. Namun hal ini, tidak menjadikan pemerintah untuk segera menanggulanginya.

''Kami sudah berulangkali meminta untuk segera diperbaiki. Namun sampai dengan sekarang belum ada tindak lanjutnya. Padahal, wilayah Randusanga Kulon, selain merupakan sentra produksi rumput lain, juga banyak potensi lainnya yang bisa dijadikan aset pemerintah,'' pungkasnya.