Usai Sepak Bola Dua Anak Baku Pukul, Satu Tewas
FF-Firga Fajar
Kamis, 23/06/2011, 09:07:00 WIB

Is (membelakangi kamera) didampingi ayahnya (kiri) saat diperiksa di Mapolsek Pekalongan Selatan. (Foto: Firga)

PanturaNews (Pekalongan) - Taufik Hidayat (7) putra bungsu dari dua bersaudara pasangan Nur Adhim (35) dan Faizah (32), warga Kelurahan Banyurip Ageng Gang IIIC RT 1 RW 4 Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, meninggal dunia, Rabu 22 Juni 2011 petang. Siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah I, Banyurip Ageng itu, diduga tewas setelah baku pukul dengan Is (8), seusai keduanya bersama teman lainnya bermain sepak bola di lapangan voly Banyurip Ageng.

Menurut Gufron, warga setempat, sore itu ia melihat keduanya bermain sepak bola bersama sejumlah anak sebaya. Namun, entah apa penyebabnya, setelahnya keduanya terlibat baku pukul, yang mengakibatkan Taufik tersungkur tak sadarkan diri.

"Kata anak-anak yang melihat, mereka gelut-gelutan, dan naas, ulu hati dan tengkuk Taufik terkena sikutan Is," jelas Gufron, Kamis 23 Juni 2011 saat melayat di rumah duka.

Beberapa kali warga berusaha membangunkan korban, namun tak berhasil. "Belakangan disadari Taufik sudah tidak bernyawa," jelasnya. Oleh warga korban lantas dibawa rumahnya yang  tak jauh dari lapangan tempat dia bermain.

Seingat Ghufron wajah korban saat itu sudah membiru. Atas kejadian tersebut, ia bersama beberapa warga lain melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Pekalongan Selatan pukul 18.30 WIB.

Anggota Polsek Pekalongan Selatan langsung meluncur ke TKP, selanjutnya membawa jenazah korban ke rumah sakit HA Djunaid untuk divisum. Sementara beberapa anggota yang lain menuju ke rumah teman korban, Is, dan mengamankannya ke Mapolsek Pekalongan Selatan.

Kejadian tersebut tak urung membuat keluarga korban syok, dan belum bisa dimintai keterangan.  sekitar pukul 20.30, jenazah korban sudah dipulangkan dari RS HA Djunaid. Namun pihak keluarga tidak memperbolehkan wartawan untuk mengambil gambar jasad korban.

Lurah Banyurip Ageng, Sularto, menyatakan orang tua korban masih diliputi kesedihan, sehingga belum bersedia memberikan keterangan kepada media. "Mereka masih syok," ucapnya singkat. Ia menambahkan, keluarga korban dikabarkan menerima kejadian tersebut sebagai musibah, dan belum memutuskan untuk memperkarakan teman korban.

Is yang pada pemeriksaan Kamis 23 Juni 2011 pagi, didampingi ayah kandung dan seorang psikolog, Agustin, dengan polos mengaku jika sebelum baku pukul dengan Taufik, ia diejek oleh anak-anak yang lebih besar dengan menyebutnya pengecut, kalau tak berani berkelahi dengan korban. Malah, katanya, kalau tak mau berkelahi ia akan dikroyok.

Kapolsek Pekalongan Selatan, Kompol Sugito Marsudi mengatakan, pengakuan Is ini masih terus didalami. Sedang status hukum Is masih belum dapat ditetapkan karena usianya. "Hasil visum belum keluar, sehingga kita belum berani memutuskan status hukumnya," ujar Kapolsek.

Sementara psikolog anak, Agustin, pada kesempatan sama mengungkapkan yang terjadi lebih diakibatkan pengaruh tayangan kekerasan di media massa. "Termasuk di Play Station yang sangat digemari anak-anak," urainya di Mapolsek Pekalongan Selatan.