|
|
Ilustrasi |
|
PanturaNews (Brebes) - Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Ir Nono Setiawan, menegaskan Brebes tidak khawatir menghadapi masalah akibat larangan ekspor sapi dari Australia. Pasalnya, populasi sapi di Brebes yang berjumlah 21.000 ekor, termasuk sedikit di Jawa Tengah dibanding Kabupaten Boyolali, Kabupaten Grobogan dan kabupaten lainnya.
"Harga daging sapi di Brebes masih stabil, yakni berkisar 65 - 70 ribu per Kg. Sapi hidup harganya ada kenaikan sebesar 20 persen. Dari harga Rp 5 juta sekarang bisa sampai Rp 7 juta per ekor," kata Nono saat ditemui di kantornya, Jumat 10 juni 2011.
Permintaan daging sapi untuk kebutuhan rumah tangga dan untuk menyuplai kebutuhan warung-warung masih cukup. Karena itu Kabupaten Brebes tidak khawatir kekurangan. "Untuk harga daging permintaan tertinggi di wilayah Bumiayu, sehingga harga disana masih sekitar Rp 70 ribu per Kg," ujarnya.
Seperti diberitakan, pemerintah Australia menghentikan ekspor ternak hidup ke Indonesia mulai Rabu 8 Juni selama enam bulan. Keputusan itu diambil menyusul penyelidikan lembaga penyiaran ABC yang memperlihatkan sapi-sapi asal Australia, disembelih secara kejam di beberapa rumah potong hewan di Indonesia.
Rekaman video ABC itu menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat, dan menjadi tekanan bagi pemerintah untuk menghentikan sementara ekspor sapi. Australia mengekspor 700.000 ternak setiap tahunnya dan sebagian besar dengan tujuan Indonesia. Nilai perdagagan ekspor sapi
hidup ke Indonesia diperkirakan sekitar Rp 3 triliun per tahunnya. Beberapa peternak Australia khawatir jika larangan ekspor bisa berdampak pada peternakan di kawasan pedesaan.
Film dokumentasi yang diproduksi ABC itu juga menyebabkan turunnya penjualan daging sapi hingga 15% di Australia. Bagaimanapun, Luke Bowen dari Asosiasi Peternak Northern Territory mengatakan bisa menerima keputusan pemerintahnya walau menyebabkan kerugian ekonomi.