Berpolitik Tanpa Pancasila Lahirkan Jiwa Penghancur
JAY-Riyanto Jayeng
Kamis, 02/06/2011, 06:28:00 WIB

Bambang Siregar (kiri) didampingi Edi Suripno saat diskusi Hari Lahir Pancasila.

PanturaNews (Tegal) - Bangsa Indonesia saat ini belumlah lepas dari pembusukan yang sama dari rezim pemerintahan sebelumnya. Bangsa ini tak lagi memiliki jiwa, sebab Pancasila sudah diselewengkan oleh manusia-manusia berkuasa yang busuk jiwanya. Kebebasan dan kemerdekaan berpolitik tanpa Pancasila, hanyalah akan melahirkan bangsa yang memiliki jiwa penghancur.

Pernyataan itu disampaikan Bambang Siregar SE, selaku nara sumber tunggal yang didampingi Sekretaris DPC PDI Perjuangan, H Edi Suripno SH dalam diskusi dengan tema 'Pancasila Dalam Pembusukan' selama satu jam lebih bersama struktural DPC PDI Perjuangan Kota Tegal, Jawa Tengah, dalam peringatan Hari Kelahiran Pancasila, Rabu 01 Juni 2011 pukul 20.00-21.40 WIB.

Menurut Bambang, nilai-nilai luhur yang terkandung di 5 sila dalam Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar negara ini, setiap saat hampir bisa dipastikan telah diselewengkan oleh oknum-oknum manusia yang lebih cenderung memenuhi hasrat kekuasaannya, baik dalam politik maupun ekonomi.

Label kebebasan yang dimiliki oleh tiap-tiap individu secara sadar atau tidak merupakan titik awal dari sebuah petaka. Manusia-manusia bebas merdeka yang tidak membekali dirinya dengan Pancasila itu selanjutnya merubah diri menjadi individu-individu yang bisda menjadi penghambat terciptanya keadilan sosial dan  kemanusiaan beradab.

“Watak penghambat itu antara lain, serakah, bengis, korup bahkan memperlakukan manusia lain secara biadab dalam kepalsuan keberadaban. Secara alamiah, manusia dituntut untuk memenuhi kepentingan dirinya, mengkapitalisasi sumberdaya demi akumulasi perolehan dirinya. Sangat sedikit tipe manusia patriot yang mengutamakan kepentingan diluar dirinya, kepentingan bersama, kepentingan bangsa dan negaranya, Inilah petaka alamiah yang berlangsung sepanjang sejarah manusia,” tutur Bambang.

Lebih jauh dikatakan, sebagai bangsa yang memiliki jiwa penghancur karena tidak memiliki jiwa pancasila, selanjutnya akan berubah menjadi bangsa yang berjiwa bengis terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menjadi bagsa yang paling biadab dalam kemasan model negara yang berdemokrasi karena rakyat sangat tidak berkuasa mengendalikan kepentingan parochial. Rakyat tak berdaya melawan melawan kebengisan individual dan rakyat menjadi tidak berkuasa mengehentikan praktek-praktek kekuasaan yang tidak sesuai dengan jiwa pancasila.

“Masyarakat kita hafal teks Pancasila, bahkan ada yang membingkainya dengan pigura mahal untuk dipajang di tembok. Tidak cuma itu, sampai-sampai dalam berpolitik khususnya partai pun diwajibkan untuk berlandaskan asas tunggal Pancasila. Namun kebanyakan mereka melakukannya hanya sebagai sebuah kewajiban yang harus ditepati, bukan atas dasar kesadaran penuh yang memahami nilai-nilai pancasila. Pancasila lebih sering hanya dijadikan sebagai tameng dan label dari kekausaan busuk yang terus menerus digulirkan,” ujarnya.

Masih menurut Bambang, kepemimpinan yang kuat dan bisa dijadikan teladan adalah mereka yang di dalam jiwanya tertanam kuat nilai-nilai Pancasila. Sehingga dengan tegas mereka akan menyatakan bahwa watak-watak imperialis adalah musuh besar. Watak-watak imperilais adalah mereka yang dibiarkan menguasai sumber daya alam bangsa ini, mereka yang membangun kekeuatan berkoloni membawa investasi asing dan beroperasi di negara ini. Mereka adalah koruptor di panggung kekuasaan yang merampok sumberdaya publik. Mereka adalah penyelenggara negara yang abai terhadap keadilan dan kesejahteraan rakyat, Mereka adalah para ekstrimis  yang menggunakan agama untuk memecah persatuan dan kesatuan bangsa, mereka adalah para peneror rasa aman warga negara dengan menggunakan kekerasan dan ironisnya aparatur negara tak bisa diandalkan.

Bambang menambahkan, warga PDI Perjuangan diharapkan mampu menjawab semua tantangan global yang sedang menggejala di negara indonesia. Dengan bersungguh-sungguh menanamkan pancasila ke dalam jiwa-jiwa individu, diharapkan warga generasi PDI Perjuangan mampu menciptakan generasi bangsa yang beradab berdasarkan nilia-nilai Pancasila.

“Pancasila tidak dibuat hanya untuk dijadikan label dan asas tunggal bagi sebuah pergerakan partai politik. Pada zamannya, Sukarno telah melakukan perenungan yang matang ketika membuat kalimat-kalimat dalam Pancasila, hal ini karena bapak bangsa sekaliber Sukarno menginginkan kelak bangsa indonesia agar bisa mewarisi nilai-nilai pancasila yang ditanamkan dalam jiwanya,” tandas Bambang.