![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Jagat Sastra Indonesia di sekolah-sekolah bakal lebih semarak dan penuh warna. Senyampang sastra lokal (sastra subkultur) diterima oleh para sastrawan tingkat nasional dalam lokakarya bertema “Peningkatan Minat Bersastra Masyarakat” yang dilaksanakan Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), di Cisarua, Bogor, 18 - 20 Mei 2011.
Keputusan tersebut diperjuangkan mengingat bahwa kehadiran sastra subkultur, telah memperkuat bangunan kebangsaan serta bahasa yang dimiliki oleh daerah-daerah.
“Mengapa sastra daerah atau sastra lokal dapat diterima dalam lokakarya tersebut, karena sastra subkultur itu sebagai warisan budaya yang memperkaya citra kebinekaan,” terang Lanang Setiawan (LS), Minggu 22 Mei 2011, saat mengusulkan dengan getol agar sastra daerah atau lokal masuk dalam rekomendasi kepada Kemendiknas.
Dalam lokakarya yang diikuti 19 sastrawan dari berbagai daerah, Lanang pun mengusulkan perlu adanya pemberian penghargaan kepada para seniman yang berprestasi dan berjasa. Hal tersebut disuarakan juga oleh Ahmadun Yosi Herfanda dari Jakarta, Gunoto Sapari dari Semarang dan beberapa peserta lainnya dalam forum diskusi. Kebulatan usulan tersebut kemudian dirumuskan dengan istilah Pemberian Hibah kepada Sastrawan.
“Pemberian hibah tersebut cakupannya tidak hanya mereka yang melakukan proses kreatif melalui sastra nasional, melainkan juga mereka yang berkarya dengan bahasa lokal,” tutur seniman yang belum lama ini mendapat Hadiah Sastra Rancage untuk bidang jasa perkembangan sastra Tegalan.
Lanang menegaskan, para sastrawan yang tinggal di daerah, sekarang tidak perlu gengsi berkarya menggunakan bahasa lokal.
“Dengan dibukanya kebebasan berekspresi bersastra menggunakan bahasa lokal, maka para sastrawan yang tinggal di daerah khususnya Tegal selaiknya menyambut embusan angin segar itu dengan suka cita karena para sastrawan nusantara yang tinggal di daerah-daerah memperjuangkan sastra lokalnya dengan adu argumentasi panjang dan suntuk, hingga akhirnya gol dalam forum diskusi yang memeras pikiran dan kerja keras selama dua malam penuh debat. Tapi alhamdulillah tercapai dengan kesepakatan bulat,” papar Lanang.
Alasan-alasan yang kuat mengapa para sastrawan daerah ngotot, kata Lanang, adalah karena selama ini kehadiran sastra lokal telah mewabah di berbagai daerah yang tidak bisa dipungkiri telah meramaikan dunia sastra nasional. Bahkan oleh pemandu forum, Ayu Sutarto, sastrawan dari Jawa Timur, menandaskan ketakjubannya geliat sastra Tegalan yang selama ini telah bergaung ke seantero jagat sastra.
“Di Tegal, sajak Rendra berjudul Nyanyian Angsa yang narasinya begitu panjang diterjemahkan kedalam bahasa Tegal menjadi Tembangan Banya, ini sebuah upaya sumbangsih besar sastrawan daerah dalam upaya mendekatan sastra nasional kepada masyarakat sekitar melalui bahasa lokal. Begitu juga di daerah Jawa Timur dan diberbagai daerah lain, hal yang sama pun dilakukan. Makanya saya sepakat jika sastra lokal musti mendapat tempat terhormat,” papar Ayu Sutarto memperkuat alasan para peserta forum lokakarya seperti ditirukan LS.
Menurut Lanang, nantinya, karya-karya yang menggunakan bahasa lokal bakal dialih aksara ke dalam bahasa nasional untuk diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional. Hal yang sama juga karya sastra yang titulis dalam bahasa asing nantinya akan diterbitkan pula, sepanjang karya tersebut memenuhi kriteria atau standar.
Ditambahkan Lanang, peserta lokakarya juga mengusulkan agar pemberian penghargaan sama diperuntukan kepada komunitas sastra diseluruh nusantara. Karena kiprah mereka dianggap telah memberikan sumbangsih cukup berarti dalam pengembangan minat masyarakat untuk berkarya.
Salah satu usulan dari 17 rumusan yang diajukan forum diskusi tersebut kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa agar direkomendasikan Mendiknas yaitu usulan Alih Wahana Karya Sastra.
“Pemahaman tersebut yaitu, karya sastra yang dijadikan sebuah filmis atau dalam bentuk musikalisasi berupa VCD. Jika di Tegal, contoh nyatanya seperti yang pernah dilakukan oleh penyair Tegalan Dwi Ery Santoso yang telah memvisualisasikan sajak-sajak Tegalannya ke dalam vidio klip. Kerja kreatif semacam itulah yang nantinya akan mendapat perhatian dan tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan pemberian hibah berupa sebuah penghargaan,” tutur Lanang.
Lebih lanjut Lanang memafarkan, upaya penyebaran karya sastra agar masyarakat termotivasi adalah juga dengan cara melakukan Pembuatan Kumpulan Kutipan Sastra. Usal tersebut diwacanakan oleh novelis asalah Jakarta, Ayu Utami. Menurut Ayu, cara seperti itu bisa dilakukan melalui media kaos.
“Bisa juga kita mengutip penggalan sajaknya Sapardi Djoko Damono atau jika di daerah bisa mengambil kutipan dari penyair setempat. Kutipan itu tidak hanya diambil dari sajak-sajak yang menggunakan bahasa nasional namun juga dari karya sastra yang dituangkan dalam bahasa setempat,” sambung dia.
Setelah selama dua hari para sastrawan dari lintas generasi dan daerah menyumbangkan hasil semua pemikiran, forum diskusi membentuk tim perumus 5 orang terdiri dari Prof. Dr. Sapadi Djoko Damono (Jakarta), Prof. Dr. Ayu Sutarto (Jawa Timur), Prof. Drs. Jakob Sumardjo (Bandung), Drs. Ahmadun Yosi Herfanda, M.Si, dan Dra. Abidah El Khalieqy (Yogyakarta).
Dari godogan tim perumus tersebut menghasilkan 17 rumusan yang menjadi skala prioritas di antaranya yang telah disebutkan di atas. Hasil rumusan tersebut sebagai ajuan Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, kepada Mendiknas untuk direkomendasikan.
Dalam acara penutupan, para sastrawan didaulat oleh panitian untuk membaca puisi spontanitas. Tak ketinggalan Lanang Setiawan membawakan penggalan sajak terjemahan tegalan “Tembangan Banyak” dari sajak berjudul Nyanyian Angsa karya WS. Rendra. Tidak nyana sajak terjemahan tersebut mendapatkan aplaus dari peserta diskusi dan panitia.
Para sastrawan yang hadir dalam pertemuan tersebut, Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Ayu Sutarto (Jawa Timur), Lanang Setiawan (Tegal), Anwar Putra Bayu (Palembang), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Wijang Wharek (Surakarta), D. Kemalawati (Aceh), Sapardi Djoko Damono (Jakarta), Ayu Utami (Jakarta), Jacob Sumardjo (Bandung), Badruddin Emce (Cilacap), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Firman Venayaksa (Banten), Abidah El Khalieqy (Yogyakarta), Hanna Fransisca (Jakarta), Gunoto Sapari (Semarang), Ribut Wijoto (Jatim), dan Anisa Afzal (Sukabumi). Sementara Sudjiwo Tejo (Jakarta) alfa karena sedang ada kegiatan syuting diluar kota yang tidak bisa ditinggal.