![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Penanganan jalan ambles jalur Jakarta-Tegal-Purwokerto di tanjakan Ciregol, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, saat ini tengah memasuki tahapan pelapisan dasar atau fondasi jalan. Lantaran tanah yang terus bergerak, maka dibutuhkan lapisan dua fondasi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tegal-Slawi-Prupuk-Ajibarang-Langon, Dinas Bina Marga Jawa Tengah Wilayah Tegal, Danang Triwibowo mengatakan, Bina Marga tengah melakukan upaya pelapisan fondasi kelas A dan fondasi kelas B. "Hari ini (Jumat) baru mulai," tuturnya di Brebes, Jumat 20 Mei 2011.
Dua fondasi itu dibutuhkan mengingat tanah lokasi jalur yang terus labil, sehingga sesuai spesifikasi penanganannya, maka lapisan fondasi dobel tersebut menjadi solusi cerdas, sebelum nantinya memasuki proses pengaspalan.
Ruas panjang jalan yang akan diberi fondasi yakni sekitar 612 meter. Dengan pengerjaan pelapisan fondasi dibagi menjadi dua, yakni dua hari untuk mengerjakan lapisan fondasi kelas B, dan dua hari selanjutnya fondasi kelas A.
Sedianya jalur yang saat ini resmi ditutup hingga 25 Mei 2011 mendatang akibat pengeprasan tanjakan, akan kembali dibuka pada 26 Mei 2011 pukul 00.00 WIB. Namun saat mulai beroperasi, jalan yang bisa dipakai baru separo badan jalan. "Permukaan jalan saat itu masih berupa lapisan fondasi kelas A," ungkap Danang.
Selain pula hanya satu lajur yang bisa dipergunakan kendaraan Tegal-Purwokerto maupun sebaliknya secara bergantian. Meski belum dilapisi aspal nanti, Danang menuturkan, jalan Ciregol tetap bisa digunakan secara dua arah pada tiga hari sesudahnya atau tepatnya pada 29 Mei 2011.
Lapisan jalan berfondasi baru itu hanya bisa digunakan untuk kendaraan dengan berat muatan atau tonase maksimal tidak lebih dari 5 ton. "Dilarang keras kendaraan beban lebih, melintas di Ciregol," ungkapnya.
Jalur ini belum diaspal, sehingga bila dilewati kendaraan dengan tonase di atas batas aturan, maka rawan terjadi retakan pada permukaan jalan yang baru dilapisi fondasi. Menurut pengamatannya, jalur Ciregol masih sering terjadi patahan di sepanjang 20 meter yang melintang. Dampaknya, pengerjaan yang ditargetkan selesai pada akhir Juli 2011, terancam molor. "Tapi kita tetap lakukan perawatan berupa pemeliharaan jalan," jelasnya.