![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Rusaknya jalan di wilayah Ciregol, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah karena amblas beberapa waktu, ternyata dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk melakukan pungutan liar (Pungli) terhadap para sopir truk dan bus yang melintas.
Hal tersebut dikemukakan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Kabupaten Brebes, Suprapto di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di gedung Islamic Center Brebes, Rabu 23 Maret 2011.
Menurut Suprapto, sopir truk dan bus yang melintasi jalur Brebes - Purwokerto yang sedang diperbaiki tersebut, dimintai uang oleh oknum-oknum tertentu yang besarnya berfariatif. "Kalau memang oknumnya itu ternyata ada yang dari petugas Dinhubkominfo, maka akan kami tindak tegas," ujarnya.
Hal senada dikatakan Kasat Lantas Polres Brebes, AKP Matrius SIK. Pihaknya juga dengan tegas akan menindak terhadap anggotanya jika terlibat aksi pungli di jalur Ciregol. "Kita akan menyelidiki informasi tersebut, untuk itu jika ada warga pengguna jalan telah menjadi korban, untuk segera melaporkannya kepada kami, dan kami akan segera menindak tegas," jelasnya.
Masyarakat, lanjut Matrius, saat ini sedang kesullitan jadi jangan sampai mereka terbebani lagi dengan munculnya permasalahan lain. "Tugas kita adalah membantu semaksimal mungkin, agar masyarakat tetap bisa melaksanakan aktifitasnya meskipun kondisinya sedikit mengalami kendala," tuturnya.
Matrius menambahkan, jajarannya tengah berupaya membantu masyarakat pengguna jalan yang sedang mengalami kendala akibat rusaknya infrastuktur yang disebabkan oleh bencana alam seperti yang terjadi di wilayah Ciregol.
Diberitakan sebelumnya, amblesnya jalan di tanjakan Ciregol, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, atau di Jalan Raya antara Tegal - Purwokerto memaksa pengusaha angkutan umum untuk menambah biaya operasional. Tambahan biaya yang diberikan kepada oknum petugas mencapai Rp 200 ribu.
"Tiap hari kami membayar Rp 200 ribu agar bus-bus kami bisa lewat Ciregol," kata pengurus perwakilan Perusahaan Otobus (PO) Dedi Jaya di Bumiayu, Romli kepada PanturaNews, Senin 21 Maret 2011 sore.
Menurut Romli, dirinya secara suka rela membayar sebesar itu tiap hari, demi kemudahan armada busnya untuk bisa melintas di jalan Ciregol yang ambles akibat pergerakan tanah. Lebih dari 20 bus armadanya setiap hari, siang dan malam, melintas dari Jakarta ke Purwokerto dan sebaliknya.
"Yang penting armada kami bisa lewat, agar kami tetap bisa memperoleh penghasilan dan kemudahan pelayanan bagi penumpang," tutur Romli.
Dikatakan, bayaran Rp 200 ribu setiap hari itu diberikan pada oknum petugas. Namun dia enggan menyebutkan yang dimaksud dengan petugas itu. "Ya pokoknya ada, tak perlu saya sebutkan petugas apa," ujar Romli.