![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Aktifitas penyimpanan ikan asin melalui mesin pendingin atau chilling room yang berada di blok J komplek Pelabuhan Jongor, Tegalsari, Kota Tegal, Jawa Tengah, untuk sementara terhenti. Pasalnya, sejak tiga hari lalu panel listrik yang menyalurkan daya ke mesin pendingin itu terbakar, otomatis proses pendinginanpun ikut terhenti.
Hal itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pengusaha ikan asin yang menitipkan ikannya disimpan dalam mesin pendingin tersebut. Mereka minta kepada Pemkot Tegal agar segera perbaiki kerusakan listrik yang menyebabkan tersendatnya proses pendinginan ikan.
Ketua Kelompok Pengusaha Ikan Asin yang tergabung dalam wadah Cahaya Semesta, Gunaryo, mengatakan merasa khawatir jika kerusakan listrik chilling room tidak segera diperbaiki. Masalahnya, di dalam mesin pendingin itu terdapat 6 ton ikan asin dalam kardus yang sangat membutuhkan pendingin. Apabila pendingin itu terlalu lama tidak beroperasi maka pihaknya akan menanggung kerugian yang tidak sedikit.
“Saat ini ada sekitar 6 ton ikan asin, milik tiga pengusaha yang disimpan dalam mesin chilling room. Kalau kerusakan listrik tak segera ditangani, dikhawatirkan ikan akan membusuk. Kalau itu terjadi, maka kami akan mengalami kerugian sekitar Rp 120 juta. Terus siapa yang akan menanggung kerugian ini,” kata Gunaryo.
Menurut Gunaryo, mesin chilling room produk pengadaan barang pemerintah tahun anggaran 2010 yang memakan biaya sampai Rp 757 juta sejak diserahterimakan kepada Kelompok Cahaya Semesta beberapa bulan lalu itu kerap mengalami kerusakan. Bahkan, mesin genset sebagai pembangkit sebelum ada aliran listrik PLN pun selalu mengalami kerusakan.
Belum lama ini, pipa penyalur Freon untuk pendingin ruangan pun megalami kebocoran, semua perbaikan ditanggung oleh kelompok Cahaya Semesta. Sedangkan aliran listrik PLN yang baru terpasang tiga hari lalu itupun terbakar.
"Seharusnya, panel blok yang terpasang jangan menggunakan bahan yang mudah terbakar, tapi gunakan bahan keramik yang tahan panas. Chilling Room ini memiliki kapasitas 40 ton, tapi hasil pekerjaan tak maksimal. Buktinya, saat kami terima banyak alat yang sudah rusak. Kami minta pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Kelautan (Dislatan) juga ikut membantu kerusakan chilling room ini. Karena kami yang dirugikan dan disalahkan para bakul ikan yang menyimpan ikan," kata Gunaryo.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kota Tegal, H Edi Suripno SH, yang kebetulan melakukan tinjauan ke lokasi bersama sejumlah anggota DPRD mengatakan, hendaknya Dislatan ikut membantu menyelesaikan permasalahan kerusakan cilling room. Karena peralatan itu menyangkut hajat hidup masyarakat banyak, khususnya para nelayan dan bakul ikan. Jangan sampai kerusakan semacam ini dibiarkan, karena itu sangat merugikan. Untuk tindak lanjut, pihaknya meminta Komisi II memanggil Dislatan untuk keperluan koordinasi.
"Karena pengelolaan Cillingrom sudah dihibahkan pada kelompok, maka kami minta Dislatan untuk shering anggaran untuk pemeliharaan. Termasuk untuk menanggulangi kerusakan Cillingrom, seperti saat ini," ujar Edi.
Secara terpisah, Kepala Dislatan Agus Santoso SH, membenarkanya kejadian kebakaran panel listrik kilometer di chilling room blok J, yang terjadi pada tanggal 20 Maret 2011 yang disebabkan terminal blok meleleh. Sehubungan dengan itu, pihaknya secara resmi telah melayangkan surat kepada PLN UPJ Tegal Kota, untuk dilakukan penggantian perlengkapan panel dan kilometer listrik di chilling room, serta terminal blok. Bahkan rekanan CV Agro Teknik, melalui berita acara juga telah menyatakan siap bertanggungjawab dan melakukan penggantian semua alat yang terbakar.
"Saat ini petugas telah melakukan perbaikan, dan informasi terakhir yang kami terima hari ini perbaikan sudah bisa selesai. Sehingga malam ini chiling room bisa difungsikan kembali. Karena panel listrik yang terbakar telah diperbaiki," tandas Agus.