![]() |
|
|
PanturaNews (Tegal) - Sejumlah warga Pedukuhan Buyut, Desa Banjar Agung, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, protes terhadap kebijakan penggabungan dua Sekolah Dasar (SD) dalam menmpuh Ujian Nasional (UN). Pasalnya, penggabungan siswa dari 2 SD yakni SD Negeri Buyut dan SD Negeri Banjar Agung, dikhawatirkan akan menimbulkan keresahan akibat kecenderungan terjadinya tawuran siswa antar kedua SD tersebut.
Selain itu, warga yang sekaligus para orang tua siswa itu menginginkan agar SD Negeri Buyut yang sudah dilengkapi sarana dan prasarana sekolahnya, diberi kewenangan untuk menyelenggarakan UN di sekolahnya sendiri, tanpa menginduk ke SD Negeri lain.
Kepala Sekolah SD Banjar Agung 01, Redi SPd, Minggu 13 Maret 2011 mengatakan, keinginan orang tua siswa dan komite sekolah SD Negeri Buyut itu, didasarkan alasan yang masuk akal. Karena SD tersebut, memiliki fasilitas yang lengkap serta jumlah siswa yang memadai. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2000 silam itu, memiliki sebanyak 125 siswa.
Selama itu, sekolah yang dijuluki SD Buyut ini sudah meluluskan siswanya 3 kali. Lokasi SD Buyut, berada di sebelah timur Sungai Rambut. Sungai tersebut merupakan perbatasan antara Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang. Setiap hendak menuju ke SD Buyut, pihak sekolah terpaksa harus melalui jembatan gantung. Sejumlah orang tua siswa dan komite SD Buyut, mengharapkan agar SD tersebut menjadi SD mandiri.
“Orang tua siswa menuntut supaya SD Buyut menjadi mandiri. Tidak selalu menginduk ke SDN Banjar Agung 01. Hal ini mengingat fasilitas dan siswa sekolah tersebut sudah memadai,” terang Kepala SDN Banjar Agung 01, Redi Spd.
Menurutnya, setiap menjelang Ujian Nasional (UN) sejumlah siswa SD Buyut berbondong-bondong menuju SDN Banjar Agung 01. Pada saat itu pula, tak ayal antara siswa SDN Buyut dan SDN Bajar Agung 01, kerap tawuran. Kondisi siswa satu sama lainnya tidak akur. Meski pihak sekolah sudah berupaya mendamaikannya, namun sejumlah siswa yang berasal dari satu atap itu, tidak mengindahkan.
“Kami selalu repot pada saat ujian. Penjagaannya harus super ketat. Karena siswa-siswa itu sering tawuran. Berujung, seluruh orang tua siswa selalu mendampinginya setiap mengikuti UN,” ujarnya.
Tuntutan SDN Buyut menjadi sekolah mandiri, sudah kerap mengajukan ke dinas. Namun demikian, dari dinas belum memberikan respon positif. Padahal menurutnya, berulang kali sekolah itu di survey petugas dari Dispora Kabupaten Tegal.
“Jumlah siswa SDN Buyut ada 125 anak. Sedangkan SDN Banjar Agung 01, 212 siswa. Selama ini, kami yang mengelolanya. Dan kami pun juga sering mengajukan ke dinas supaya SDN Buyut menjadi sekolah mandiri. Tidak menginduk ke SDN Banjar Agung lagi,” kata Redi.
Terpisah, Kepala UPTD Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Kecamatan Warureja, Hartono Spd mengatakan, SDN Buyut sudah pantas menjadi sekolah mandiri. Pihaknya mengaku juga kerap mengajukan ke dinas pusat, supaya sekolah tersebut dipisahkan. Dengan begitu, pengelolaan SD akan lebih fokus.
“Sejak berdirinya SDN Buyut, selama ini dikelola SDN Bannjar Agung 01. Untuk itu, kami sangat mengharapkan dari dinas pusat supaya merealisasikan SDN Buyut menjadi sekolah mandiri,” tandasnya.