Tanah Retak dan Bergerak, 75 Rumah dan 2 Tempat Ibadah Rusak
ZM-Zaenal Muttaqin
Selasa, 04/01/2011, 17:19:00 WIB

Ilustrasi bencana tanah bergerak.

PanturaNews (Brebes) - Bencana tanah bergerak dan retak-retak kembali terjadi di Dukuh Lebakgoak, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Akibatnya, 75 rumah yang dihuni lebih dari 300 jiwa, dan dua tempat ibadah rusak. Bencana alam itu terjadi secara perlahan sejak jembatan Plompong putus, 20 Desember 2010 lalu.

Kordinator Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Brebes, Sabar Budianto, Selasa 04 Januari 2011 mengatakan, sebagaian warga sudah ada yang mulai membongkar rumahnya karena sangat membahayakan keselamatan. Sementara sebagian besar warga masih membiarkan rumahnya yang rusak, karena tidak ada tempat untuk berpindah. "Sudah ada lima rumah yang dibongkar karena kondisinya membahayakan," katanya.

Sabar yang juga tinggal di dekat lokasi bencana itu menuturkan, bencana alam tanah retak dan bergerak mulai dirasakan oleh warga sejak sepekan lalu, dan tiap hari dirasakan makin parah. Tanah pemukiman tempat berdirinya perumahan warga, terus bergerak ke arah Sungai Keruh yang letaknya tak jauh dari lokasi pemukiman.

"Mulanya terjadi longsor di dekat Sungai Keruh akibat terjangan arus deras, tak lama setelah itu tanah pemukiman mengalami retak-retak," ungkap Sabar.

Saat ini banyak warga yang masih bertahan di rumah-rumah mereka meski kondisinya sangat membahayakan. Warga yang jumlahnya lebih dari 300 jiwa itu, masih kebingungan untuk relokasi karena tidak memiliki biaya membeli tanah dan membangun rumah kembali. "Umumnya bertahan karena tidak punya kemampuan biaya untuk relokasi," tutur Sabar.

Sebelumnya, bencana serupa juga pernah terjadi pada tahun 2008 lalu yang mengakibatkan 115 rumah warga direlokasi ke tempat yang aman di Dukuh Pakeleran dengan bantuan dari Pemkab Brebes. Kini kembali terulang di tempat yang sama, atau tepatnya di blok Dukuhkapur RT 02 RW 03 Dukuh Lebakgoak, Desa Sridadi.

"Tahun 2008 lalu terjadi bencana, kini sebelah selatannya yang sebelumnya aman, tanahnya kembali mengalami retak-retak," ujar Sabar.

Sementara itu, Kepala Desa Sridadi, Wastomo SPd membenarkan terjadinya bencana alam tanah retak dan bergerak di desanya seperti yang pernah terjadi tiga tahun lalu. Menurutnya, Dukuh Lebakgoak kini sudah tidak aman lagi untuk pemukiman warga, dan kondisi itu telah dilaporkan ke Pemkab melalui Camat Sirampog.

"Kami sudah laporkan ke Pemkab dan diharapkan ada perhatian untuk penanganannya," harap Wastomo.