![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) – Kabupaten Brebes yang terletak di wilayah pantai utara (Pantura Jawa tengah, menyimpan potensi sekaligus ketergantungan terhadap pertanian. Dengan luas wilayah 166.177 ha, dengan kondisi topografi yang tergolong heterogen yaitu ketinggian kurang lebih 3 meter dari permukaan laut (Dpl) di bagian utara, dan kurang lebih 800 meter Dpl di bagian selatan.
Di wilayang yang dikenal sebagai kota bawang ini, terdapat 123 sumber mata air. Salah satunya mata air Kaligiri merupakan salah satu sumber mata air yang terbesar di wilayah selatan, khususnya di Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog dengan kapasitas air kurang lebih 786 liter per detik.
Menurut Slamet, warga Desa Kaligiri, sumber mata air Kaligiri sangat melimpah dan mampu mengairi kurang lebih 170 hektar sawah yang meliputi wilayah Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kota Tegal. Namun ironisnya disaat kemarau, masyarakat Kaligiri malah kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kami mengusulkan agar pemkab dapat memberikan bantuan berupa pembuatan embung (Penampungan air) yang dimanfaatkan untuk mengantisipasi musim kemarau,” kata Slamet, Senin 27 Desember 2010, di aula Kecamatan Sirampog saat Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Kelestarian Hutan dan Sumber Air Kaligiri.
Slamet juga meminta, seharusnya hutan di sekitar Kaligiri ditutup dari aktifitas warga untuk menghindari pembalakan liar. Dengan ditutupnya hutan dengan sendirinya masyarakat sekitarnya dapat dikendalikan untuk tidak melakukan perusakan. Kompensasinya, disediakan lahan pertanian untuk masyarakat. “Mobilisasi hutan seharusnya tidak dilakukan serentak, dan tidak perlu melalui penjadwalan,” ujarnya.
Menjawab permintaan tersebut, Kasubag SDA dan Energi, Bagian Perekonomian Setda Brebes, Drs. Ratim mengatakan, Pemkab Brebes mempunyai program pembuatan embung di Dinas Pengairan dan ESDM dan siap menampung aspirasi dari warga. Untuk itu, jika memang diperlukan, warga segera diminta untuk membuat proposal.
Sementara untuk penutupan hutan, ada aturan dan mekanisme yang harus ditempuh, yaitu atas dasar usulan dari masarakat dan survei dari petugas lapangan di hutan.
“Penutupan hutan dari akifitas warga ada aturanya. Mobilisasi berdasarkan usulan masyarakat hutan dan survey petugas lapangan hutan. Jika berdasarkan evaluasi dari petugas layak untuk ditutup maka akan ditutup,” tutur Ratim.
Sementara itu, Kabag Humas dan Protokol Setda Brebes, Drs. Atmo Tan Sidik, mengharapkan kedepan Sumber Daya Mata Air Kaligiri, debitnya bisa terjaga dan bisa naik dengan dilestarikannya hutan disekitar.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memilih tanaman dan pohon yang dapat menahan sumber air, diantaranya bambu yang bisa menyerap air hujan hingga 90 persen, tanaman kopi yang mampu menyerap hingga 60 persen, rumput akar wangi 50 persen, rumput gajah dan tanaman salak 40 persen.
“Dengan tanaman pilihan tersebut, selain menyerap air juga dapat memberikan nilai ekonomis terhadap masyarakat yang menanam,” terang Atmo.