![]() |
|
|
PanturaNews (Brebes) - Ratusan warga Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Brebes, Jawa Tengah, gotong royong membuat jembatan darurat di Jembatan Plompong yang putus diterjang arus deras. Jembatan darurat dengan bambu tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki, Rabu 22 Desember 2010 siang.
Menurut tokoh masyarakat setempat, Hidayaturrohman, sejak terputusnya Jembatan Plompong pada Senin 20 Desember 2010 malam, warga terisolir akibat kesulitan transportasi. Untuk keluar dari desanya menuju pasar atau tempat lainnya, warga harus memutar arah yang cukup jauh. "Sebelumnya ke pasar cukup 10 menit, tapi karena jembatan putus harus lewat jalan lain yang butuh waktu satu jam lebih," tuturnya.
Biaya transportasi juga berlipat, ongkos ojek yang semula cukup Rp 5000 menjadi Rp 50 ribu sekali jalan menuju pasar atau kota kecamatan. Harga-harga kebutuhan pokok pun menjadi mahal, karena ada penambahan biaya transportasi.
Pembuatan jembatan darurat diharapkan bisa membantu meringankan beban warga, meski tetap tidak bisa dilalui kendaraan. "Dampak ekonomi akibat jembatan putus terutama kenaikan harga," kata Hidayaturrohman.
Diberitakan sebelumnya, Jembatan Plompong yang membentang di Kalikeruh dan menjadi satu-satunya akses menuju Desa Plompong, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akhirnya putus, Senin 20 Desember 2010 sekitar pukul 21.30 WIB, setelah sebelumnya mengalami kondisi kritis. Akibatnya, ribuan warga desa terisolir.
"Jembatan putus, warga terisolir, tidak bisa keluar desa," kata Kepala Desa Plompong, Ikhya Ulumudin saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa 21 Desember 2010 pagi.
Salah satu pondasi jembatan yang sudah menggantung, ambrol setelah diterjang arus deras sungai. Selain itu, tanah di sekitar pondasi retak-retak sejak lama, tapi belum ada penanganan. Akibat ambruknya jembatan, warga Desa Plompong yang jumlahnya lebih dari 10 ribu jiwa terisolir. Jembatan tersebut merupakan satu-satu akses menuju pusat pemerintahan kecamatan dan juga ke desa-desa lain.