Solidaritas Kecil Zikri Jamil: Suara dari Jambi untuk Bumi Cendrawasih
.
Rabu, 19/08/2026, 20:18:20 WIB

HARI itu, suasana Desa Lubuk Sepuh, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, sedang riuh rendah menyambut karnaval tahunan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mayoritas peserta mengenakan pakaian adat daerah barat, kali ini ada sosok kecil yang tampil sangat berbeda.

Ia adalah Zikrikal Jamil yang kerap disapa Jamil anak kecil berusia 11 tahun dan masih duduk di kelas enam Sekolah Dasar yang baru menginjak usia remaja awal, namun memiliki hati yang jauh lebih besar dari tubuhnya.

Di tengah kesibukan usia remaja yang sedang sibuk memikirkan kostum biri-biri dan serigala, ada adik kita yang bernama Zikrikal Jamil asal Sarolangun Jambi yang berbeda dan berani bersuara dengan kostum Papua yang dibuat dengan tangan suci dia dan keluarga sendiri untuk saudara kita di Papua sana.

Jamil berangkat pagi-pagi sekali dari rumah dengan semangat yang membara. Di badannya, ia mengenakan pakaian adat Papua yang ia siapkan dengan penuh kasih - noken yang melingkar di bahu, kalung manik-manik yang berkilau, dan mahkota hiasan kepala yang indah. Di lehernya, ia menggantungkan selembar kardus yang bertuliskan dengan tangan sendiri:

"Solidaritas dari Tanah Batin untuk Kasih Bumi Cendrawasih - Papua bukan tanah kosong."

Ia melakukannya bukan tanpa alasan. Tanggal itu juga bertepatan dengan gelombang aksi nasional yang digelar saudara-saudara di seluruh Papua, menyuarakan kesulitan dan harapan yang selama ini sering tak terdengar. Jamil ingin ikut bersuara - bahwa di tanah jauh di Sumatera ini, ada hati yang peduli, ada anak kecil yang turut merasakan penderitaan saudara-saudaranya di timur negeri.

Pengetahuannya tentang Papua datang dari kakaknya yang sedang berkeliling indonesia hingga ke tanah Papua, dan saat ini pun kakaknya sedang berada di sana. Perlahan, cerita dan pemahaman itu mengalir ke hati Jamil dan keluarganya.

Dengan langkah tegap, anak itu berjalan menuju lokasi karnaval di Kecamatan Pelawan - tempat yang tak pernah ia duga sebelumnya. Namun, alih-alih sambutan hangat yang ia harapkan, yang menyambutnya justru tatapan aneh, bisik-bisik, dan tak lama kemudian - perundungan.

Teman-temannya mengejek, warga sekitar menatap sinis, bahkan ada yang melontarkan kata-kata bullyan. Ia terlihat berbeda, dan keberaniannya bersuara dianggap tak pada tempatnya. Kurangnya pemahaman dan literasi masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi di tanah Papua membuat mereka tak memahami makna di balik pakaian dan tulisan itu.

Akan tetapi ia dibungkam, semangatnya untuk memeriahkan acara karnaval kini telah dipaksa dihilangkan hanya karena kostum hasil dari kemurnian hati dan kekreatifan ia sendiri, ia dipaksa melepaskan kostum karena ia berani bersuara demi saudara di Papua sana.

Jamil sempat menegur mereka. Ia berusaha melawan, mencoba menjelaskan dengan suara yang gemetar namun teguh. Namun, kekuatan seorang anak kecil tak mampu menahan gelombang penolakan itu. Semuanya runtuh seketika. Di tengah tekanan itu, ia terpaksa melepaskan satu per satu atribut adat yang ia buat dengan tangan suci dan penuh kasih - untuk Bumi Cendrawasih. Bahkan ukiran-ukiran yang ada di tubuhnya pun tak lagi ia tampilkan.

Namun, satu hal yang tak hilang: sebelum semuanya berakhir, Zikrikal Jamil sempat mengabadikan momen itu bersama beberapa teman dan saudara-saudaranya yang memahaminya. Sayangnya, saat bapak dan ibunya tiba di lokasi untuk melihat dan berfoto bersama, Jamil sudah melepas semua atributnya. Yang tersisa hanyalah dirinya yang biasa, tanpa tanda bahwa ia baru saja berani berdiri untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

 Anak sekecil ini harus berjuang sendirian melawan perundungan - bukan dari orang asing, melainkan dari kawan-kawannya sendiri, dari warga di desanya sendiri - hanya karena ia berani tampil berbeda, hanya karena ia berani bersuara bagi mereka yang jauh di Tqnah Mama (Papua). Ia tahu sedikit banyak tentang apa yang terjadi di Papua, dan itu cukup baginya untuk memilih berdiri.

 Kepada adik Zikrikal Jamil, tetap semangat menjalani aktivitas, percayalah dik -Mati Dalam Keadaan Membela Orang-Orang Yang Tertindas Adalah Pahlawan Sesungguhnya. Tuhan selalu bersama kita.

Kisah Zikri Jamil ini menjadi pelajaran yang sangat dalam bagi kita semua: betapa perihnya perjuangan, betapa pahitnya sekadar berani bersuara dan tampil berbeda pun bisa menjadi cobaan berat, bahkan bagi seorang anak kecil. Ia tak meminta pujian, tak meminta kemenangan - ia hanya ingin suaranya didengar, ingin menunjukkan bahwa solidaritas tak mengenal jarak, pulau, maupun usia. Bahwa Papua bukan tanah kosong, dan bukan pula orang asing bagi kita.

Semoga langkah kecil Zikri ini suatu hari nanti tumbuh menjadi lautan pemahaman di negeri ini. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek, melainkan alasan untuk saling memeluk. Waa waa waa Hormat.

(Irpan Afendi adalah Pengeliling Indonesia dengan jalan kaki dan naik sepeda. Founder expora (explore nusantara). Email: irvanck46@gmail.com)